Diversifikasi untuk Pengelolaan Energi Nasional Tahun 2025

Home / Dunia Tambang / Diversifikasi untuk Pengelolaan Energi Nasional Tahun 2025

Diversifikasi untuk Pengelolaan Energi Nasional Tahun 2025

by
Ayu Bedtrik (12113082)

Sejak tahun 1980, pemerintah sudah menyadari pentingnya peranan energi dalam pembangunan dan perekonomian. Dilihat dari kondisi keenergian di Indonesia saat ini potensi sumber daya energi cukup besar, akses masyarakat terhadap energi masih terbatas, ekspor energi besar, impor BBM besar, harga ekspor gas dan batubara lebih tinggi dari pemasaran dalam negeri, kemampuan atau daya beli konsumen dalam negeri terhadap batubara dan gas rendah dan belum adanya insentif ekonomi baik fiskal maupun non fiskal bagi energi fosil untuk pemakaian dalam negeri.
Konsumsi energi dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring pertumbuhan PDB (Pertumbuhan Domestik Bruto). Dapat dilihat pada gambar berikut, bahwa konsumsi tahun 2013 pemakaian BBM di Indonesia pada tingkat 29%. Hal tersebut menyatakan bahwa BBM masih merupakan energi utama dalam agregat supply perekonomian dan merupakan salah satu anchor price yang dikonsumsi oleh mayarakat dibandingkan dengan sumber energi yang lain. Proporsi pemakaian BBM yang tinggi terkait dengan keterlambatan upaya diversifikasi ke energi nonminyak akibat harga BBM yang relatif murah karena masih mendapat subsidi dari pemerintah.

1
Gambar 1 Konsumsi Energi di Indonesia Tahun 2013

Pengelolaan Energi Nasional untuk selanjutnya perlu memperhatikan hal-hal berikut. Hal yang pertama kali disorot yaitu persoalan harga. Dalam pemenuhan energi di Indonesia masih dengan impor dan hutang ke luar negeri. selain harga, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pendanaan. Pendanaan dalam sektor energi tidak hanya diserahkan kepada pihak swasta melainkan pemerintah memiliki andil. Kemudian dalam hal pemerataan energi. Penyediaan energi merupakan hak yang diperoleh setiap warga negara, namun bila ditinjau dari kenyataan yang ada, tidak semua wilayah di Indonesia memiliki akses yang sama. Hal tersebut terlihat bahwa tidak semua wilayah di Indonesia mendapatkan akses yang memadai. Ditinjau dari segi teknologi, Indonesia tidak memiliki teknologi mesin sendiri. Selama ini Indonesia hanya memiliki alat pengelolaan energi secara impor. Dalam segi eksekusi, pengembangan energi modern terhambat oleh birokrasi perizinan dan koordinasi antarlembaga.
Pemerintah Indonesia memiliki kejaran target bauran energi tahun 2025. Dapat dilihat pada tabel di bawah, bahwa minyak bumi setidaknya turun menjadi di bawah 20% dan energi dalam sumber lain diharapkan meningkat.

Tabel 1 Target Bauran Energi Tahun 2025
2

Berdasarkan uraian diatas, pemerintah memiliki target untuk menaikan persentase dari energi lain. Pengembangan dalam bidang energi terbaharukan sebagai alternatif dalam memenuhi target pemerintah. Dari segi ketersediaan di Indonesia, Indonesia merupakan negara yang dilalui garis khatulistiwa dan penyinaran matahari hampir ada setiap tahunnya. Maka dari itu, diversifikasi penelitian dan pengembangan energi matahari dapat menjadi solusi krisis energi yang ada di Indonesia. Dana untuk penelitian dan pengembangan energi alternatif perlu ditingkatkan tiap tahunnya. Selain itu, perlu perkembangan teknologi, khususnya biaya produksi energi surya dapat bersaing dengan energi fosil.
Solusi lain yaitu dengan CNG (Compressed Natural Gas). Di Indonesia, CNG lebih dikenal sebagai bahan bakar gas (BBG). Bahan bakar ini dianggap lebih bersih bila dibandingkan dengan gasoline dan diesel karena emisi gas buangnya yang ramah lingkungan. CNG dibuat dengan melakukan kompresi metana (CH4) yang diekstrak dari gas alam. Dari segi teknologi penunjangnya, CNG dapat digunakan pada mesin Otto (berbahan bakar bensin) dan mesin diesel (berbahan bakar solar). CNG secara ekonomis lebih murah dalam produksi dan penyimpanan dibandingkan LNG yang membutuhkan pendinginan dan tangki kriogenik yang mahal. Pemasaran CNG lebih ekonomis untuk lokasi-lokasi yang dekat dengan sumber gas alam. Ditinjau dari segi stabilitas harga, CNG lebih stabil dibandingkan dengan gasoline dan diesel. Pemakaian energi dalam sektor transportasi menduduki peringkat kedua setelah industri. Hal ini merupakan hal yang paling feasible dilihat dari konsumsi BBM sekarang ini. Tidak hanya dapat diterapkan dalam transportasi, tapi CNG juga dapat digunakan di rumah dan industri.
Solusi-solusi tersebut dapat dilakukan dengan kemauan politik dari semua pihak. Sehingga apabila dilakukan produksi energi matahari maupun CNG secara masal, maka sumber energi ini tereksplorasi sebagai energi utama di masa depan. Untuk merangsang sektor swasta berpartisipasi lebih jauh dalam mengembangkan energi alternatif mulai dari hulu sampai hilir, maka pemerintah perlu memberikan kemudahan, keleluasaan, dan insentif bagi perusahaan-perusahaan yang berminat untuk mengembangkan energi alternatif. Sementara untuk mendorong masyarakat dalam menggunakan energi alternatif, perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat secara menyeluruh dan intensif.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

1119238shutterstock-124494013780x390a