Kebijakan Mega Proyek 35000 MW : Prospek dan Tantangan Industri Pertambangan Batubara Indonesia

Home / Diskusi Keprofesian / Kebijakan Mega Proyek 35000 MW : Prospek dan Tantangan Industri Pertambangan Batubara Indonesia

Kebijakan Mega Proyek 35000 MW : Prospek dan Tantangan Industri Pertambangan Batubara Indonesia

Oleh : Kevin Satrio Adiguna  (12113092)

Pemerintah telah berkomitmen untuk merealisasikan penyediaan listrik sebesar 35 ribu Megawatt (MW) dalam jangka waktu 5 tahun (2014-2019). Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 6-7 persen setahun, penambahan kapasitas listrik di dalam negeri membutuhkan sedikitnya 7.000 megawatt (MW) per tahun. Artinya, dalam lima tahun ke depan, penambahan kapasitas sebesar 35.000 MW menjadi suatu keharusan. Komitmen pemerintah kembali ditegaskan oleh Presiden Joko Widodo saat memberi pengarahan kepada Direksi dan jajaran PLN beberapa waktu lalu. Presiden menegaskan bahwa “Target 35 ribu MW bukan target main-main, itu realistis. Jadi harus dicapai dengan kerja keras,” tandas Joko Widodo. “Listrik yang cukup, adalah kunci bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Sebagai mana kita ketahui bahwa salah satu sumber energi yang akan menjadi penopang dalam pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW tersebut adalah batubara. Dalam proyek 35.000 MW batubara berperan sangat penting, dikarenakan energi yang berasal dari batubara memiliki porsi yang paling besar. Saat ini PT.PLN bersama dengan IPP (Independent Power Producer) sedang menargetkan pembangunan sebagian Pembangkit Listrik agar terealisasinya kapasitas Pembangkit Listrik 35000 MW di tahun 2019. Berikut adalah kapasitas terpasang PLTU eksisting dan perencanaannya,

Rekapitulasi kapasitas PLTU di Indonesia (sumber : APBI)

Rekapitulasi kapasitas PLTU di Indonesia (sumber : APBI)

Dari kebutuhan yang besar ini maka ketersediaan batubara di Indonesia menjadi sorotan berbagai pihak. Ini merupakan suatu tantangan pula bagi para pelaku usaha pertambangan batubara di Indonesia guna memenuhi kebutuhan batubara sebagai bahan utama pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Indonesia.

Survey Kebutuhan Batubara PLTU di Indonesia pertahun (sumber APBI)Survey Kebutuhan Batubara PLTU di Indonesia pertahun (sumber APBI)

Jumlah kebutuhan Batubara Proyek 35000 MW serta ketersediaan cadangan Batubara di Indonesia (sumber APBI)Jumlah kebutuhan Batubara Proyek 35000 MW serta ketersediaan cadangan Batubara di Indonesia (sumber APBI)

Mega Proyek ini juga memeliki tantangan-tantangan yang dihadapi. Tantagan Pertama mengenai harga komoditas, permintaan global serta isu lingkungan. Faktor kelebihan penawaran (oversupply) yang tidak diimbangi oleh permintaan (demand) di pasar global yang berimbas pada penurunan harga batubara di pasar global. Dari segi lingkungan, emisi yang dihasilkan (abu dan asap) dari pembakaran batubara di Pembangkit Listrik menimbulkan polemic adanya pencemaran lingkungan yang merugikan kehidupan bumi. Tantangan Kedua ialah mengenai pasokan Batubara dalam negeri. Keterbatasan cadangan batubara membuat adanya kekhawatiran bagi pihak Pengembang Pembangkit Listrik untuk dapat menunjang aktivitas produksi listrik mereka. Terlebih saat ini kegiatan eksplorasi sangat rendah dikarenakan biaya eksplorasi yang mahal sehingga perusahaan penambang batubara enggan melaksanakannya di saat krisis keuangan akibat jatuhnya harga komoditas. Selain itu penetapan harga jual batubara untuk PLTU harus tepat agar memberikan investasi untuk jangka panjang. Tantangan Ketiga ialah permasalahan terkait kebijakan/regulasi yang kurang proinvestasi kepada produsen batubara. Kewajiban PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) bagi perusahaan yang sangat memberatkan dikarekan adanya kewajiban PNBP terhadap ESDM dan ijin pinjam pakai kawasan hutan. Terlebih ketidakpastian pembahasan Revisi UU Minerba dan Renegoisasi PKP2B. Revisi RUU ini sampai saat ini belum juga rampung disusun oleh DPR-RI, Isu krusial dalam pembahasan RUU Minerba bagi perusahaan batu bara adalah luasan wilayah, kewajiban fiskal & keuangan, perpanjangan PKP2B.

Terlepas dari segala realisasi dan tantangan yang dihadapi pemerintah maupun penambang, Batubara masih menjadi sumber energi yang paling terjangkau (affordable) untuk mendukung proyek kelistrikan nasional 35 GW dan mendukung ketahanan energi nasional. Perlu dukungan kebijakan untuk mendorong eksplorasi dan investasi agar jumlah cadangan batu bara nasional dapat meningkat untuk mendukung keberlangsungan pasokan batu bara terhadap proyek kelistrikan nasional. Diharapkan kebijakan ini dapat meningkatkan lagi iklim pertambangan batubara di Indonesia yang beberapa tahun terakhir mengalami masa-masa sulit akibat jatuhnya harga batubara di dunia.

Sumber :

APBI Report Summary (2016)

Corporate Exposure Satuan Batubara PT. PLN Persero, “35.000 MW untuk Terangi Negeri”

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search