KESIAPAN INDONESIA DALAM NASIONALISASI PERUSAHAAN ASING MINERAL DAN BATUBARA

Home / Divisi Keprofesian / KESIAPAN INDONESIA DALAM NASIONALISASI PERUSAHAAN ASING MINERAL DAN BATUBARA

KESIAPAN INDONESIA DALAM NASIONALISASI PERUSAHAAN ASING MINERAL DAN BATUBARA

Oleh : Arruya Ashadiqa (12112062)

Nasionalisasi adalah proses di mana negara mengambil alih kepemilikan suatu perusahaan milik swasta atau asing. Apabila suatu perusahaan dinasionalisasi, negara yang bertindak sebagai pembuat keputusan. Contoh negara yang telah melakukan nasionalisasi yaitu Venezuela di bawah pimpinan presiden Hugo Chavez beberapa tahun silam. Ketika itu, Hugo Chavez menasionalisasi semua perusahaan asing tambang dan minyak yang ada di Venezuela. Tindakan itu sempat membuat dunia marah terutama Amerika Serikat karena sebagian perusahaan yang dinasionalisasi merupakan perusahaan asal negeri paman Sam tersebut. Venezuela juga sempat dikucilkan dari pergaulan internasional. Memang butuh keberanian yang besar dari pemerintah dan kesiapan yang matang ketika berkata “nasionalisasi perusahaan asing”.

Pak Tino (Ketua Perhapi) mengatakan bahwa Indonesia siap untuk melakukan nasionalisasi perusahaan asing, terutama yang bergerak di bidang pertambangan. Tapi hal tersebut tidak bisa langsung dilakukan tanpa perhitungan yang matang. Dampak apa yang akan terjadi jika kita menasionalisasi perusahaan asing, berapa modal yang dibutuhkan, sumberdaya manusianya bagaimana dan seberapa maju teknologi yang dibutuhkan untuk mengoperasikan tambang terutama yang sudah memasuki tahap bawah tanah (underground) seperti di Papua (PT. FI). Untuk menasionalisasi perusahaan besar contohnya PT.FI, harus dilakukan secara bertahap. Karena dari segi modal dan teknologi, Indonesia masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, jika nasionalisasi dilakukan secara bertahap sampai suatu saat menjadi pemegang saham mayoritas, Indonesia siap memegang tanggungjawab tersebut sebagai pengambil keputusan mayoritas terkait arah gerak perusahaan ke depan. Jadi idealnya kita tidak hanya berpikir berapa besar keuntungan yang bisa didapat jika menasionalisasi perusahaan asing berskala besar, tapi kita juga harus berpikir seberapa besar tanggungjawab yang harus dipegang, jangan sampai ketika perusahaan tersebut kita nasionalisasi, malah akan bangkrut. Sungguh sangat fatal jika hal tersebut terjadi. Kiranya kita juga harus belajar dari Venezuela terkait nasionalisasi perusahaan asing ini agar tidak menjadi suatu usaha yang sia-sia.

Di Indonesia sendiri, untuk alur penambangan sampai pengolahan dan pemurnian mineral masih banyak yang bolong. Contohnya masih sedikit smelter yang beroperasi untuk mengolah konsentrat tembaga, emas dan perak. Begitu pula halnya dengan logam – logam lain seperti nikel, besi dan bauksit. 2017 sudah tinggal satu tahun lagi, sedangkan progres pembuatan smelter masih banyak yang dibawah 50%. Menurut saya, sebelum berbicara soal nasionalisasi perusahaan besar, pemerintah lebih baik memastikan agar smelter pengolahan dan pemurnian mineral itu bisa selesai pada tahun depan karena akan lebih menguntungkan bagi pemerintah jika perusahaan menjual logam jadi daripada konsentrat ke luar negeri. Selain itu, dengan adanya smelter, bisa mendorong tumbuhnya industri hilir seperti industri manufaktur dan teknologi yang akan membuka banyak lapangan kerja baru.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

2