MITOS DAN FAKTA DIBALIK KONFLIK SEMEN REMBANG

Home / Diskusi Keprofesian /  MITOS DAN FAKTA DIBALIK KONFLIK SEMEN REMBANG

 MITOS DAN FAKTA DIBALIK KONFLIK SEMEN REMBANG

 

by

Mary Agustina Putri

Rosario Tobias

 

Proyek Semen Rembang kini sedang menjadi topik yang hangat diperbincangkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mahasiswa, akademisi, beberapa masyarakat daerah Rembang, dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya. Hal ini disebabkan oleh aksi demonstrasi beberapa pihak yang mengaku sebagai masyarakat petani Rembang dan korban dari PT. Semen Indonesia, diikuti oleh beberapa LSM.

Seperti yang disampaikan pada beberapa media, aksi demonstrasi perihal Proyek Semen ini diawali di Universitas Gajah Mada (UGM) pada Jumat, 20 Maret 2015. Tidak hanya di UGM, demonstrasi-pun dilakukan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Jumat, 10 April 2015. Hal ini dapat menjadi teguran kepada para akademisi untuk lebih memperhatikan masyarakat. Namun, pandangan kita-pun tidak boleh sempit dan menyelidiki apakah benar para akademisi yang sering terlibat dalam pembangunan Bangsa ini tidak memperhatikan kepentingan masyarakat, serta apakah kenyataan bahwa sebelumnya masyarakat Rembang sudah makmur dari hasil tani itu benar.

Dikutip dari suatu media, Gunretno, seseorang yang mengaku sebagai sesepuh petani Pati serta korban PT. Semen Indonesia mengatakan bahwa mereka memang bukanlah orang terpelajar yang bisa bersilat lidah, namun mereka tahu mana yang benar dan salah. Pengakuan ini pun memberikan teguran pada pemerintah perihal pendidikan. Apabila pendidikan di Indonesia baik, setidaknya kebenaran yang menurut setiap manusia berbeda dapat menjadi sama berdasarkan ilmu yang terbukti dan diakui secara komunal, yang menjadi dasar dalam membuat peraturan.

Dari semua ini kita melihat ketidaksinergian semua pihak, dimana masyarakat yang angkat bicara menyalahkan perusahaan dan akademisi; akademisi yang merasa sudah menggunakan ilmu dan pengalamannya untuk masyarakat justru tidak didengarkan; perusahaan Negara yang selama perjalanannya mengatakan mempedulikan masyarakat, mendapatkan berbagai pengakuan dari pemerintah terkait sosial dan lingkungan, serta melibatkan berbagai akademisi juga tidak diakui usahanya; serta pemerintah, baik legislatif maupun eksekutif, yang dalam kasus ini kurang terlihat upayanya untuk menjadi jembatan. Bagaimana akan terbentuk suatu pembangunan yang berkelanjutan berlandaskan keadilan apabila pemerintah tidak mampu membuka kebenaran dan menjembatani semua pihak demi kepentingan Negara? Di sisi lain terdapat dugaan dari masyarakat luar Rembang, bahwa masyarakat yang mengaku dirugikan oleh PT. Semen Indonesia merupakan masyarakat yang dibayar oleh pihak asing agar PT. Semen Indonesia tidak mampu bersaing dalam bisnis semen dalam Negeri, sehingga Indonesia import atau bergantung pada perusahaan asing dalam negeri. Informasi mengenai keterlibatan asing ini hanya asumsi hasil analisis beberapa orang yang belum dibuktikan kebenarannya, silakan pembaca yang cerdas untuk menyaring isu tersebut.

Pada Selasa, 7 April 2015, beredar undangan kepada mahasiswa ITB dan masyarakat umum untuk mengikuti Studium Generale (kuliah umum) dengan tema “Penelitian Lapangan dan Desain Tambang yang Berwawasan Lingkungan di Cekungan Watu Putih, Rembang, Jawa Tengah” serta “Pengelolaan Proyek Semen Rembang Berbasis Lingkungan” yang diselenggarakan pada hari Jumat, 10 April 2015, bertempat di Ruang Seminar Besar Teknik Pertambangan ITB. Hal inilah yang mengundang aksi demontrasi masyarakat di depan gerbang selatan ITB Jalan Ganesha. Masyarakat mengira bahwa dengan adanya kuliah yang diisi oleh PT. Semen Indonesia, perusahaan ini mendapat dukungan dari para akademisi ITB.  Menanggapi hal tersebut, pada Kamis, 9 April 2015, muncul undangan kepada seluruh massa kampus untuk melakukan kajian dengan tema “Paberik Semen dan Rembang”.

Terdapat beberapa tanggapan negatif dan positif terkait proyek semen Rembang yang dinyatakan oleh beberapa pihak: masyarakat yang beraksi demonstrasi, masyarakat yang tidak beraksi demonstrasi, LSM, serta dosen Teknik Pertambangan ITB. Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT-ITB) membuat suatu kajian terkait hal tersebut. Kami memposisikan diri kami sebaik mungkin untuk kepentingan bersama.

No.

Sisi Negatif yang Diangkat oleh Masyarakat yang Demonstrasi dan Beberapa LSM Sisi Positif yang Diangkat oleh Akademisi dan Perusahaan Saran untuk segala Pihak
1. Menurut Koordinator Jaringan Masyarakat Pegunungan Kendeng (Mingming) bahwa pendirian pabrik semen di karst Watu Putih mengancam lingkungan dengan merusak mata air dan gua Watu Putih. Di Kabupaten Rembang memang tidak dapat dipungkiri bahwa memang disana terdapat beberapa mata air dan goa basah yang menurut hakikatnya merupakan kawasan lindung dan tidak dapat diperuntukkan untuk kegiatan-kegiatan yang merubah bentang alam. Akan tetapi, berdasarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang telah dipegang oleh PT Semen Indonesia, wilayah yang termasuk daripadanya sebesar 520 Ha tidak terdapat sama sekali mata air dan goa basah.

 

Pada Cekungan Watu Putih, Kabupaten Rembang, meskipun pada IUP Operasi Produksi tertera sebesar 520 Ha, hanya 487 Ha yang akan ditambang dan sisanya untuk kepentingan lingkungan.

 

Rembang dipilih karena keterdapatan bahan baku untuk semen, bukan air. Teknologi smen modern tidak menggunakan air tanah dalam produksinya selain sebagai pendingin mesin dan sanitasi.

Pemerintah melakukan pemantauan berkala

 

Pemerintah bekerja sama dengan perusahaan dalam ‘izin lingkungan’ mempublikasikan seluas-luasnya, terutama kepada masyarakat sekitar bahwa wilayah perusahaan aman dari keterdapatan mata air dan goa basah.

 

Masyarakat memberikan bukti fisik ke pemerintah yang bertanggung jawab apabila terdapat kelalaian perusahaan dalam pemenuhan kewajibannya, sehingga dapat diberikan tindak lanjut oleh pihak yang berwenang. Bukan malah mencoreng nama baik pihak luar dengan tuduhan-tuduhan tanpa bukti.

2. Cekungan air tanah tidak boleh ditambang mengacu pada surat yang dikeluarkan Pak Surono selaku Kepala Badan Geologi.

 

Kepala Badan Geologi, Pak Surono, mengeluarkan surat perihal Perpres bahwa Cekungan Air Tanah tidak boleh ditambang

Cekungan air tanah (CAT) legal untuk ditambang, apabila cekungan air tanah tidak boleh ditambang maka tidak akan ada penambangan di Indonesia karena hampir semua tambang, minyak, gas, geothermal, mineral, dan batubara yang ada saat ini berada pada daerah Cekungan air tanah (CAT).

 

Bila Cekungan Air Tanah tidak diperizinkan untuk ditambang, maka lebih baik semua tambang di Indonesia ditutup karena hampir setiap tambang, minyak, gas, geotermal, mineral dan batubara yang saat ini ada berada pada daerah Cekungan Air Tanah.

 

Di sekitar lokasi pertambangan di Rembang terutama di Cekungan Watu Putih, terdapat wilayah pertambangan yang sampai saat ini masih berjalan dan hanya PT. Semen Indonesia yang terkena imbas dari surat yang diberikan Kepala Badan Geologi kepada Pemerintah daerah Jawa Tengah.

Masyarakat dan LSM hendaknya berpikir lebih terbuka.

 

Sebaiknya Pemerintah mengadakan duduk bersama Bapak Surono selaku Kepala Badan Geologi, beserta ahli geologi dan ahli pertambangan yang dipercaya oleh Pemerintah dan Perusahaan dalam pembangunan proyek tersebut sejak awal. Pertemuan tersebut didokumentasikan oleh media sehingga dapat dipantau oleh masyarakat luas.

3. Penyusunan AMDAL tidak transparan. Keterbukaan dalam penyusunan sudah dilakukan, namun pada kenyataannya kurang merata. Adnan Buyung Nasution sebagai kuasa hukum PT. Semen Indonesia sudah melakukan pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Adnan mengatakan dalam suatu media, bahwa akan terus melakukan berbagai upaya pendekatan secara persuasif serta penjelasan ilmiah pada kelompok masyarakat yang masih menolak.

 

  1. Semen Indonesia juga melakukan transparansi laporan setiap tahunnya yang dapat dilihat pada websitenya,

www.semenindonesia.com/page/get/laporan-tahunan-78

 

Terdapat beberapa penghargaan yang merupakan wujud dari pengetahuan pihak-pihak yang memberi penghargaan terhadap aktivitas yang dilakukan oleh PT. Semen Indonesia.

 

Dalam hal lingkungan, PT. Semen Indonesia memperoleh beberapa penghargaan, diantaranya:

  • Hasil penilaian Proper Kementerian Lingkungan Hidup memberikan warna emas pada 2012 dan 2013
  • The Best Green CEO dari Warta Ekonomi pada 2013
  • Penghargaan Lingkungan Hidup 2013 dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur
  • The Best Innovation of Green Product pada BUMN Innovative Awards 2013
  • Penghargaan RIntisan Industri Hijau 2013 dari Kementerian Perindustrian
  • Indonesia Sustainability Reporting Awards 2013 dari National Centre for Sustainability Reporting, December 2013
  • The Best Indonesia Green Awards pada 2013 dan 2014 dalam kategori pelestari keanekaragaman hayati, pelestari sumber daya air, pelestari energi terbarukan, pelopor pencegahan polusi, dan pelestari bumi terbaik. Digelar oleh La Tofi School of CSR yang bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan dan Kementerian Perindustrian
  • Mendapatkan penghargaan Green Industry dari Kementerian Perindustrian pada 2014

 

Dalam hal penyebaran informasi, memperoleh penghargaan dari media:

  • Penghargaan Web BUMN Terbaik 2014 versi beritasatu.com

 

Dalam hal sosial, memperoleh penghargaan dari media:

  • Indonesia CSR Award 2013
  • Antaranews CSR Award 2014
  • Penghargaan Penanganan Bencana Gunung Kelud Terbaik 2014

 

Dan beberapa pengakuan lainnya dari berbagai pihak terkait usaha yang telah dilakukan. Dapat dilihat di www.semenindonesia.com/page/get/penghargaan-15

 

Perusahaan harus mengakui kekurangannya dalam hal ini karena menganggap kepada Kepala Desa dan keluarga yang seharusnya berlaku sebagai representasi desa saja sudah cukup. Berdasarkan kepercayaan akan representasi ini, perusahaan tidak salah. Namun  perusahaan menjadi salah saat ternyata masyarakat dengan jumlah yang lebih banyak menganggap fungsi kepala desa dalam representasi pemberian izin lingkungan pada nyatanya tidak ada.

 

Dalam hal ini perusahaan harus memiliki bukti fisik keterlibatan masyarakat dalam pemerolehan izin lingkungan. Misalnya dengan video dokumentasi yang selanjutnya dapat disebarkan di media publik.

 

Tim asesmen AMDAL dibentuk oleh Pemerintah dan bersifat independen.

 

Masyarakat baiknya mengikuti segala publikasi yang diadakan oleh PT. Semen Indonesia. Apabila masih terdapat ganjalan, silakan beri saran. Bila dalam keberjalanannya bermasalah, silakan lapor kembali kepada pihak berwenang.

 

Dalam suatu media, komisioner Komisi Hak Azasi Manusia, M Nur Khoiron, menyatakan bahwa  pihaknya sudah merekomendasikan agar PT. Semen Indonesia menghentikan terlebih dahulu aktivitas di Rembang sebelum ada putusan dari Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Namun rekomendasi tersebut tidak digubris. Sebaiknya perusahaan menggubrisny sejak awal, karena pada akhirnya-pun siding tersebut dihadiri oleh Perusahaan.

4. Lokasi Pabrik yang ingin dibangun berada dalam kawasan hutan yang melanggar moratorium Presiden RI. UU 26 tahun 2007 mengatur jenis-jenis kawasan berdasarkan fungsi utamanya yang dibedakan menjadi kawasan budidaya dan kawasan lindung. Kawasan budidaya merupakan kawasan yang diperuntukkan untuk kegiatan pertambangan, perindustrian, pertanian, kehutanan, dan lain-lain. Sementara kawasan lindung merupakan kawasan suaka alam, cagar budaya, sempadan sungai, sempadan pantai, sekitar mata air, sekitar danau, hutan lindung, bergambut, resapan air, rawan bencana alam.

 

Peraturan mengatur bahwa bila suatu kawasan hutan dilakukan pinjam pakai maka kawasan tersebut harus diganti sebanyak 2x lipat dan dilakukan reboisasi serta reklamasi.

Pemerintah setempat, baik legislative maupun eksekutif, hendaknya tidak menutup mata seakan membiarkan masyarakat terus tenggelam dalam ketidak tahuan akan peraturan yang diberlakukan di wilayahnya.

 

Masyarakat hendaknya klarifikasi kepada pemerintah setempat terlebih dahulu sebelum melakukan aksi penolakan.

 

5. Ratusan mata air, gua, dan sungai bawah tanah ditemukan masih mengalir dan memiliki debit bagus. Ratusan mata air ini merupakan sumber PDAM. Air tanah di wilayah penambangan Rembang berada ratusan meter di bawah permukaan sehingga tidak masuk sebagai daerah yang akan ditambang oleh PT. Semen Indonesia. Untuk menanggulangi masalah air yang ditakuti oleh masyarakat akan habis, PT. Semen Indonesia menggunakan konsep “Zero Run Off” sehingga air yang berada di permukaan ditampung dengan desain sedemikian rupa sehingga ketika tambang sudah ditutup, debit air dapat meningkat seperti di PT. Semen Indonesia yang sudah beroperasi di Tuban. Ground water  ditahan sehingga masuk menjadi air tanah. Tambang di Tuban setelah suatu wilayah di tempat tersebut sudah dipakai untuk lahan tambang, pada akhirnya dapat dijadikan ternak ikan serta produksi padi ti tanah tersebut dapat bertambah. (Sumber Video PT. Semen Indonesia)

 

Di wilayah 520 Ha ini memang terdapat daerah imbuhan air, akan tetapi khusus pada daerah tersebut, PT Semen Indonesia menyatakan bahwa tidak akan menambang pada daerah imbuhan tersebut. Alasan daripada hal ini adalah karena penambangan yang ingin dilakukan oleh PT Semen Indonesia ini merupakan penambangan yang berbasis lingkungan. Oleh karena itu,  wilayah tersebut merupakan tempat untuk ditaruhnya belt conveyor yang melintang. Dalam pengangkutan digunakan belt conveyor daripada truk karena truk membutuhkan fasilitas jalan dan menghasilkan emisi suara dan gas yang lebih besar.

Hendaknya perusahaan memberikan penjelasan lebih clear kepada masyarakat setempat.

 

Apabila terdapat pelanggaran, masyarakat dapat melaporkan ke pihak berwenang.

 

6. Sumber mata air di kawasan karst Watu Putih harus dilindungi, dengan dimulainya proses penambangan dapat menyebabkan matinya sumber air. Karst merupakan batu gamping yang berpori. Gamping yang ada di wilayah Indonesia hampir seluruhnya 99% merupakan batu Karst karena Indonesia berada di wilayah tropis. Dalam peraturan, yang diatur untuk tidak boleh dirubah bentang alamnya atau ditambang diatur sebagai kawsan lindung adalah Kawasan Bentang Alam Karst dan bukan kawasan Karst. Apabila Karst tidak boleh ditambang maka di Indonesia tidak akan ada produksi semen. Kawasan Bentang Alam Karst merupakan kawasan yang mana terdapat keindahan bentang alam seperti stalagtit dan stalagmit.

 

Karst yang isunya merupakan daerah resapan yang menyimpan air hanyalah mitos. Pada wilayah penambangan pastilah wilayah karst karena Indonesia merupakan daerah tropis dan batuan gamping pada wilayah tropis hampis seluruhnya berupa karst.

Akademisi dan Perusahaan harus menyampaikan kepada masyarakat bahwa sumber air tidak akan mati dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

 

7. Polusi debu dan getaran yang disebabkan aktivitas pertambangan (termasuk peledakan). Mengenai peledakan yang dapat menghasilkan getaran besar dan merusak, Pak Budi Sulistijo mengatakan bahwa truk yang lalu lalang akan menyebabkan getaran yang lebih besar dan dapat merusak jalan. Sementara itu, penambangan di Rembang menggunakan alat angkut belt conveyor untuk mengangkut hasil tambangnya dan bukan truk.

 

Tambang itu mahal karena tambang dibuat sedemikian rupa agar berbasis lingkungan, misalnya saja untuk bahan peledak digunakan bahan peledak emulsi yang meskipun lebih mahal tetapi lebih berbasis lingkungan. Bila tambang tidak dibuat sedemikian rupa agar berbasis lingkungan, maka tambang tersebut tidak akan tahan lama karena reputasinya akan hancur.

Akademisi, pemerintah, dan perusahaan harus memastikan dan melakukan pemantauan secara berkelanjutan terhadap komplain masyarakat terkait debu dan getaran. Kemudian membuat masyarakat yakin tidak terkena dampak negatif dengan upaya-upaya yang dilakukan.

 

Masyarakat yang tidak tahu menahu mengenai teknis pertambangan tidak dapat sepenuhnya disalahkan karena ketidak tahuan tersebut.

8. Ditemukan ponor pada wilayah penambangan PT Semen Indonesia yang menurut peraturan termasuk sebagai kawasan lindung. Ponor merupakan kawasan yang dulunya sungai tetapi sudah kering atau tiba-tiba hilang sehingga merupakan suatu kawasan yang unik dan merupakan bentang alam yang termasuk sebagai kawasan lindung. Pernyataan tersebut benar adanya, akan tetapi mengenai kebenaran keberadaan ponor dalam wilayah izin usaha pertambangan PT Semen Indonesia adalah salah besar karena tidak termasuk. Masyarakat sebaiknya tidak asal menuduh
9. Proses produksi semen merusak agrarian.

 

Dengan dirampasnya tanah bertani menjadi wilayah pertambangan, kami kehilangan pekerjaan kami.

Lahan Pabrik PT. Semen Indonesia di Rembang merupakan tanah dengan tumbuhan yang minim dan kawasan dengan tumbuhan rumput dan padi gogo.

 

Menurut Budi Sulistijo yang memiliki tanah pertanian setengah hektar dan melakukan kegiatan pertanian, terdapat perhitungan sebagai berikut:

 

 

 

 

Untuk sawah kelas 1 yang bisa dipanen 3x dalam setahun:
1. Hasil ketika musim hujan/Ha Hasil ketika musim kemarau/Ha
2. 6,6 ton padi yang masih basah 5,2 ton padi yang masih basah
3. 3,5 ton padi yang sudah dikeringkan di pabrik 3,5 ton padi yang sudah dikeringkan di pabrik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bila mengerjakan satu orang maka bisa dikerjakan selama 96 hari sedangkan umur padi biasanya 100 hari. Sementara itu tidak mungkin jumlah orang di kolom kedua di atas setiap hari melakukan pekerjaan yang sama apabila total hari yang dibutuhkan sudah dilewati. Misalnya, tidak mungkin 1-2 orang (1 traktor) melakukan kegiatan pertanian membajak lebih dari dua hari.

Masyarakat dan lembaga-lembaga yang mengaku peduli seharusnya juga melakukan penghitungan lebih detail di lapangan.

 

Akademisi sebaiknya menyampaikan pengetahuan ini secara jelas dan dapat dimengerti oleh masyarakat setempat.

10. Tidak tersedianya buffer zone pada wilayah yang akan ditambang. Buffer zone atau zona penyanggah adalah suatu kawasan tepian hutan lindung yang berbatasan antara zona inti (sanctuary zone) dengan zona pemanfaatan yang dimukimi penduduk lokal. Menurut peraturan yang berlaku, dalam setiap wilayah izin usaha pertambangan operasi produksi, harus ada buffer zone minimal sepanjang 5 meter. Akan tetapi menurut perencanaan tambang di Kabupaten Rembang ini, disediakan kawasan buffer zone sebesar 50 meter (10x lipat). Tujuan daripada dibuatnya kawasan ini adalah agar penduduk sekitar masih dapat bekerja disana dan dipakai untuk keperluan bercocok tanam. Masyarakat, sekali lagi, tidak boleh asal tuduh.

 

Berikut ini adalah gambar peta area penambangan dan pabrik Semen Indonesia di Rembang

(dalam kotak merah)

asd

as

(gambar dari Bareksa.com dan Pak Budi)

 

Pada Studium Generale yang diadakan di Program Studi Teknik Pertambangan ITB, terdapat sebuah LSM, Rakapare, yang menanyakan mengenai beberapa hal terkait isu yang menjadi fokus mereka. Berikut merupakan beberapa tanya-jawab yang dilakukan saat SG:

No. Tanya Jawab
1. Di China, dilakukan banyak penutupan pabrik tambang untuk mengurangi emisi karbon. Infiltrasi tanah yang awalnya 54mm/jam karena tanahnya digunakan sebagai lahan tambang maka infiltrasinya berkurang menjadi 12mm/jam. Bagaimanakah tanggapan PT. Semen Indonesia menyikapi hal ini? Konsumsi semen di Indonesia mencapai 2,1 milyar ton semen, sementara kapasitas produksinya 2,32 milyar. Di China terdapat 200jt ton berlebih semen (excessive supply) sehingga tidak akan membuka pabrik baru melainkan menutup pabrik semen tersebut.

 

  1. Semen Indonesia menggunakan konsep “Zero run off” dimana air yang berfungsi sebagai ground water ditahan dan dihisap sehingga bisa disimpan di kemudian hari. Contohnya di Tuban, seiring dengan berjalannya pertambangan di daerah tersebut, PT. Semen Indonesia menggunakan konsep ini dan hasilnya debit air di salah satu lokasi mencapai 40L/s
2. Masyarakat Samin di Rembang sudah sejahtera dengan bertani, ada isu bahwa lahan mereka dipaksa untuk dijual. Bagaimana cara menghadapi hal ini dalam segi sosial budaya? Tidak ada masyarakat Samin di Rembang

 

Tidak ada orang Sedulur Singkep di Rembang

 

Faktanya memang ada yang menolak tetapi kami, PT. Semen Indonesia, tetap menghargai masyarakat disana. Saya menawarkan kepada anda untuk datang langsung ke tempat-tempat penambangan maupun pabrik kami.

 

Perihal kesejahteraan, Pak Budi Sulistijo menjelaskan kembali perihal ketenagakerjaan pada sawah kelas 1

 

  1. Semen Indonesia tidak menjanjikan kesejahteraan tetapi menjanjikan dan menawarkan opportunity (kesempatan) untuk bisa bekerja di sana bagi masyarakat ring 1, melalui program CSR, pajak yang lebih ringan, dan lain-lain yang dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi masyarakat meningkat 15%.

 

3. Berapakah jarak pemukiman Tuban dengan Pabrik Semen? Bagaimanakah regulasi atau aspek teknis yang seharusnya menjadi jarak minimal dari sebuah lokasi Pabrik Semen? Dulunya Tuban jauh dari pemukiman karena awalnya berada di tengah gunung dan tidak ada penduduk setempat. karena semakin berkembangnya penduduk dan masyarakat, pemukiman warga semakin  mendekati wilayah Pabrik Semen.

 

Berdasarkan regulasi, minimal sebesar 500 meter dan di Pabrik Semen Tuban, jarak pemukiman yang paling dekat dengan Pabrik adalah 1500 meter.

 

Pertanian dan pertambangan merupakan ilmu ibu yang saling menyokong satu sama lain. Semua sumberdaya yang terkandung di bumi tercinta kalau tidak dapat difungsikan untuk tani, ya untuk tambang. Dasarnya adalah dua itu. Kita memang makan nasi, bukan semen. Namun juga perlu diingat bahwa kita juga tidak mampu membangun rumah kita, bangunan sekolah kita, dan fasilitas lainnya dengan nasi. Kita membutuhkan fondasi bangunan yang tak lain menggunakan semen sebagai komponen utama perkuatan. Untuk itulah ilmu pertambangan disertai peraturan dan berbagai kebijakan Pemerintah sangat berhati-hati dalam penggunaan fungsi lahan.

Keilmuan pertambangan dibuat untuk melakukan praktik pertambangan yang baik dan berkelanjutan. Dengan kata lain, pertambangan sebagai komponen pembangunan yang berkelanjutan dengan penerapan good mining practice. Oleh karena ilmu yang kami peroleh memang ditujukan untuk kesejahteraan sosial-masyarakat, lingkungan, dan ekonomi Negara, selain juga perusahaan. Kami-pun dididik untuk juga mampu menerima evaluasi hasil kinerja dari masyarakat dengan menggunakan ilmu sosial dari pihak terkait, baik masyarakat maupun Pemerintah. Evaluasi ini dapat merupakan kuantifikasi dari kenaikan atau penurunan jumlah tenaga kerja, kemiskinan, indeks pembangunan manusia (human development index), dan lainnya. Sebaiknya setiap masalah diselesaikan dengan kepala dingin apabila visinya sudah jelas sama untuk kesejahteraan bersama, bukan malah justru saling menyalahkan dan menjatuhkan dengan  terus mencari pembenaran tanpa dasar.

Masih banyak pekerjaan rumah Pemerintah dan keilmuan pertambangan dalam melaksanakan good mining practice di tambang-tambang Indonesia karena banyak tambang existing yang sudah terdapat bertahun-tahun lamanya, sulit ditutup maupun dikelola kembali agar terwujud pembangunan yang berkelanjutan. Hendaknya masyarakat dan lembaga-lembaga yang peduli terhadap pertambangan dan lingkungan tidak hanya sempit melihat pada satu perusahaan yang ternyata sudah benar dan baik dalam mengelola usahanya. Apabila hal ini terjadi, kita justru akan membiarkan usaha-usaha pertambangan yang tidak memenuhi parameter lingkungan dan sosial lolos begitu saja. Jangan sampai kita hidup dalam budaya dimana “Yang benar disalahkan, dan yang salah didiamkan”. Tentu saja hal ini berdampak negatif lebih luas terhadap ekonomi dan lingkungan masyarakat sekitar, bahkan Negara. Pasar Semen Indonesia kita menguasai pasar dalam Negeri, namun tantangan ke depannya ialah akan terdapatnya pabrik dari Meksiko, Swiss, Jerman dan Cina yang isunya akan menjual semen lebih murah dari pasar. Harga akan lebih mudah dipermainkan di tengah semakin banyaknya pabrik asing. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar untuk Pemerintah. PT. Semen Indonesia dapat dilihat sebagai asset Negara karena walaupun dengan keuntungan yang besar, perusahaan ini masih melakukan program CSR ke masyarakat, peningkatan teknologi untuk menyuport pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, dan lainnya dengan biaya ratusan milyar sampai triliyun rupiah.

“Knowledge is power. Information is liberating. Education is the premise of progress, in every society, in every family.”, dikutip dari ucapan Kofi Annan, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 1997 sampai 2006. Kalau boleh menerjemahkannya, pernyataan tersebut menyatakan bahwa akan ada dampak apabila seorang yang kurang memiliki pengetahuan dan bukti kebenaran yang cukup memberikan suatu informasi yang tanpa syarat dapat tersebar luas. Terlihat bahwa pendidikan menjadi sebab-akibat dari kemajuan di setiap bangsa. Pendidikan yang dianggap hanya dimiliki oleh akademisi, bukan seluruh golongan masyarakat, menimbulkan dampak pada informasi yang tersebar, dimana pengetahuan yang menjadi kekuatan tidaklah seimbang. Pengetahuan seseorang dengan seorang yang lain memang berbeda, ada yang lebih tinggi dan lebih rendah dalam beberapa bidang, untuk itulah dibutuhkan pendidikan moral dimana dipupuk rasa saling menghormati antar keilmuan. Sayangnya, implementasi dari  terjemahan pendidikan tidaklah sama, pun dalam satu Bangsa.

Apabila main tuduh menuduh tanpa bukti yang jelas, siapapun bisa melakukannya. Apalagi ditambah dengan media informasi yang berkembang pesat, semua informasi dapat diakses tanpa banyak disaring oleh para pembaca, penonton, dan/atau pendengarnya. Informasi yang salah akan menyebabkan salah interpretasi dan menyebarkan pembodohan. Sebagai tambahan, kami memiliki informasi dari teman yang tinggal di sekitar lorong belakang PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara), bahwa saat sidang putusan  mengenai PT. Semen Indonesia di PTUN Semarang terdapat pihak pro dan kontra yang hadir, dimana pihak kontra dihadiri oleh warga Rembang dan beberapa mahasiswa dari universitas berbeda. Kebetulan teman kami ini di depan rumahnya ada pangkalan tukang jajanan SD yang dimanfaatkan warga Rembang yang kebetulan lapar untuk mengisi perutnya. Lalu disanalah teman kami ini mendengar ada warga Rembang yang menyeletuk, “Dibayar lima puluh ribu kok sampai siang-sore gini”. Kami yang mendengarkan ini berdasarkan asas kepercayaan kepada teman akan langsung yakin kebenaran informasi ini. Namun karena tidak ada bukti yang jelas, kami tidak menjadikan ini pertimbangan dalam memberikan saran. Pun kalau informasi ini benar, mungkin saja masyarakat tersebut sedang butuh uang. Bisakah kami menyatakan, kemiskinan-lah yang menghalalkan pembodohan? Kembali lagi, pekerjaan rumah bagi pemerintah. Kalau informasi ini salah, tolong dijadikan pembelajaran bahwa menyebarkan suatu informasi yang berkaitan dengan banyak pihak haruslah lebih hati-hati, apalagi apabila Anda mengetahui bahwa diri Anda tidak cukup ilmu dalam hal itu. Oleh karena itu, kami-pun berhati-hati dan mengajak Anda untuk menjadi pembaca cerdas.

Terdapat kutipan menarik dari salah seorang masyarakat pemerhati kasus ini. Dituliskannya dalam sebuah media, “Petani mana yang bisa bertanam di atas lahan kapur? Dan setahu saya lokasi tapak pabrik berada di kekuasaan Perhutani. Kalimat menggusur bisa jadi terjebak oleh permainan makelar tanah yang sangat banyak berkeliaran membidik setiap jengkal tanah potensi tambang di Rembang. Ada warga yang kecewa tanahnya tak jadi dibeli, ada yang shock setelah tahu harga tanahnya terlalu murah (dibeli orang yang mengaku dari PT SI padahal dari makelar), seorang kyai yang tetiba gagal mendirikan pesantren karena ulah oknum tersebut, provokasi orang Pati yang kecewa karena Pabrik Semen tak jadi berdiri disana, banyak warga yang kuatir kehilangan pencarian dari hasil tambang yang sudah berjalan puluhan tahun. Jangan tutup mata! Warga disana tak hanya petani, tapi juga penambang. Truk-truk terparkir di halaman rumah bak pelihara sapi untuk menyambung ekonominya.” (Wardani, 2015)

Kesejahteraan masyarakat Indonesia adalah milik kita bersama sebagai satu Bangsa. Jangan sampai kepentingan luar atau dalam dapat memecah persatuan Bangsa sehingga menjadi lebih tidak sejahtera di masa depan. Jangan pernah berkata Anda tidak berilmu atau tidak peduli dengan ilmu yang tidak menjadi bidang Anda, karena segala jenis ilmu yang dimiliki oleh setiap Bangsa dapat menjadi senjata untuk menyerang sekaligus tembok untuk berlindung.

 

Sumber:

Slide presentasi Pak Budi Sulistijo

Slide presentasi PT. Semen Indonesia ketika Studium Generale (Pak Agung selaku Sekretaris Perusahaan)

http://m.bareksa.id/id/text/2015/03/16/pabrik-semen-indonesia-di-rembang-dan-demonstran-tenda-biru/9741/analysis

http://www.antaranews.com/berita/486269/karst-rembang-cocok-untuk-pabrik-semen

http://www.republika.co.id/berita/koran/financial/14/09/26/nchvc7-pabrik-semen-di-rembang-diminta-segera-dibangun

http://suaraagraria.com/detail-20555-alasan-petani-rembang-tolak-pertambangan-karst–pabrik-semen.html#.VSxQtPmUdNU

http://m.kompasiana.com/post/read/712084/3/polemik-semen-rembang-penyesatan-berbungkus-bahasa-intelektual.html

regional.kompas.com/read/2014/12/02/20330301/Komnas.HAM.Pembuatan.Amdal.Pabrik.Semen.di.Rembang.Langgar.HAM

www.semenindonesia.com/page/get/laporan-tahunan-78

www.semenindonesia.com/page/get/penghargaan-15

 

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

COVER DEPA1119238shutterstock-124494013780x390