Pemanfaatan Batubara Sebagai Komoditas Energi Nasional

Home / Diskusi Keprofesian / Pemanfaatan Batubara Sebagai Komoditas Energi Nasional

Pemanfaatan Batubara Sebagai Komoditas Energi Nasional

by

Divisi Keprofesian HMT-ITB Kepengurusan 2015/2016

Salah satu sumber energi yang banyak digunakan di Indonesia saat ini terutama sebagai pembangkit listrik berasal dari batubara. Batubara merupakan energi yang relatif murah sehingga menjadikannya sebagai komoditi yang tepat dalam rangka mengurangi subsidi energi dan meningkatkan kemampuan daya beli energi masyarakat. Sejak dicanangkannya program pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 35.000 MW, pemanfaatan energi batubara dirasa merupakan salah satu alternatif pilihan yang paling tepat sebagai sumber bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap. Pemerintah telah berkomitmen untuk merealisasikan program ini dalam jangka waktu 5 tahun ke depan (2014 – 2019). Adapun tujuan dari program ini tidak lain adalah untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi per tahun, yaitu sebesar 6 – 7 persen.

            “Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam.” Tentunya kalimat ini sudah tidak asing di telinga kita. Akan tetapi kenyataan berbicara sebaliknya, Indonesia bukanlah seperti apa yang dielu-elukan oleh para pendahulu kita. U.S. Energy Information Administration, International Energy Outlook pada September 2011 melansir bahwa Indonesia tidaklah termasuk dalam 9 negara yang mempunyai cadangan energi batubara, minyak, dan gas terbesar di dunia.

Coal Oil Gas
United States 27.5% Saudi Arabia 17.7% Russia 25.2%
Russia 18.3% Venezuala 14.4% Iran 15.7%
China 13.3% Canada 11.9% Qatar 13.4%
Other Non-OECD Europe and Eurasia 10.7% Iran 9.3% Saudi Arabia 4.1%
Australia and New Zealand 8.9% Iraq 7.8% United States 4.1%
India 7.0% Kuwait 6.9% Turkenistan 4.0%
OECD Europe 6.5% United Arab Emirates 6.7% United Arab Emirates 3.4%
Africa 3.7% Russia 4.1% Nigeria 2.8%
Other Central and South America 0.9% Libya 3.2% Venezuela 2.7%
Rest of World 3.2% Rest of World 18.2% Rest of World 24.7%
  Total 100.0%   Total 100.0%   Total 100.0%

Source: U.S. Energy Information Administration, International Energy Outlook, September 2011, Tables 5, 7, and 10.

Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa cadangan batubara Indonesia hanya tersisa 2 – 3 persen dari cadangan batubara dunia dan pada tahun 2015 hanya tersisa 31 miliar ton. Namun, eksploitasi dari produsen batubara sangatlah besar dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011, Indonesia merupakan produsen batubara terbesar ke-5 di dunia dan sebagian besar hasil produksi tersebut lebih banyak diekspor dibanding digunakan di dalam negeri. Pada tahun 2013, Indonesia merupakan negara pengekspor batubara terbesar di dunia.

1

Sumber: DJMB ESDM, 2015

Penggunaan batubara sebagai sumber energi akan semakin tinggi di masa depan. Pemerintah Indonesia dalam Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 mencanangkan pada tahun 2025 penggunaan batubara sebagai sumber energi lebih tinggi dibanding dengan penggunaan minyak bumi, gas alam, dan energi terbarukan.

2

Sumber: www.asiabiomass.jp

Batubara dengan CV tinggi sudah sejak dahulu ditambang di Indonesia. Mayoritas batubara diekspor dan menjadi sumber pendapatan yang sangat signifikan untuk Indonesia. Namun hal ini perlu dievaluasi lagi mengingat kebutuhan batubara di Indonesia untuk pembangkit listrik meningkat. Program 35.000 MW membutuhkan dana investasi di atas Rp1.100 triliun. Untuk menjaga kemampuan finansial, PLN membangun pembangkit 10.000 MW dan 25.000 MW sisanya akan ditawarkan ke pihak swasta (IPP/Independent Power Producer). Dengan menggunakan referensi estimasi PLN, kebutuhan batubara di Indonesia adalah sekitar 3,5 – 4 juta ton per 1.000 MW per tahun. Jika diambil nilai rata-rata kapasitas proyek sekitar 1.200 MW, berarti setiap proyek membutuhkan pemasok batubara dengan kapasitas produksi minimal 10 – 15 juta ton per tahun dan cadangan paling tidak 90 juta ton per proyek yang dipasok oleh produsen yang sama. Mengingat ketiga pertimbangan tersebut, perlu dicari titik temu dimana bisa didapat CV batubara setinggi mungkin dan pasokan batubara tetap memadai. Dalam arti cadangan tersedia dengan cukup melalui pemasok-pemasok dengan kapasitas yang cukup besar. Evaluasi kapasitas produksi yang ada memberikan indikasi bahwa titik ini berada di CV batubara sekitar 4500-5000 kcal/kg dimana terdapat beberapa produsen dengan kapasitas diatas 10 juta ton dengan total cadangan melebihi 2 juta ton.

Mengingat banyaknya pembangkit listrik batubara yang akan dikembangkan dengan skema private public partnership (perjanjian kerja sama atau kontrak antara instansi pemerintah dengan badan usaha/pihak swasta), aspek pendanaan proyek menjadi sangat penting. Dari segi itu, proyek IPP membutuhkan pasokan batubara dari 2 sampai 3 pemasok dengan jejak rekam yang cukup kuat dan cadangan yang memadai. Secara umum sebaiknya kebutuhan batubara dari pemasok tidak melebihi 20% dari kapasitas produksi pada saat ini karena peningkatan kapasitas yang terlalu tinggi dalam waktu yang relatif singkat (3 – 6 bulan) sangat sulit dilakukan oleh produsen tambang. Kementerian ESDM akan mengeluarkan sepuluh paket kebijakan yang akan diterbitkan pada Oktober 2015.

Tujuan Peluncuran Paket Kebijakan Energi

  • Mendorong pertumbuhan ekonomi
  • Menjamin kepastian hukum
  • Memudahkan investasi
  • Menggerakan sektor riil
  • Memperkuat industri hilir
10 Paket Kebijakan Sektor Energi

  • Pengecualian kewajiban L/C ekspor migas
  • Perpres pembangunan kilang minyak
  • Perpres tata kelola gas bumi
  • Perpres kebijakan harga gas bumi
  • Perpres LPG untuk nelayan
  • Perpres konversi BBM ke BBG untuk transportasi darat
  • RPP pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan
  • Perpres program 35.000 MW
  • Permen pemanfaatan bahan bakar nabati
  • Perpres krisis energi dan atau darurat energi

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah untuk memastikan ketersediaan dan keberlanjutan pasokan batubara Indonesia untuk pembangkit listrik. Jangan sampai Indonesia menjadi negara importir batubara sehingga ketahanan serta kemandirian energi menjadi hilang yang mengakibatkan Indonesia akan mudah dikendalikan oleh negara lain dan pada akhirnya rakyat yang akan menanggung bebannya.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

featuredpendidikan