November 1, 2015

PEMANFAATAN BATUBARA SEBAGAI KOMODITAS ENERGI NASIONAL

by

Divisi Keprofesian HMT-ITB Kepengurusan 2015/2016

Salah satu sumber energi yang banyak digunakan di Indonesia saat ini terutama sebagai pembangkit listrik berasal dari batubara. Batubara merupakan energi yang relatif murah sehingga menjadikannya sebagai komoditi yang tepat dalam rangka mengurangi subsidi energi dan meningkatkan kemampuan daya beli energi masyarakat. Sejak dicanangkannya program pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 35.000 MW, pemanfaatan energi batubara dirasa merupakan salah satu alternatif pilihan yang paling tepat sebagai sumber bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap. Pemerintah telah berkomitmen untuk merealisasikan program ini dalam jangka waktu 5 tahun ke depan (2014 – 2019). Adapun tujuan dari program ini tidak lain adalah untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi per tahun, yaitu sebesar 6 – 7 persen.

            “Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam.” Tentunya kalimat ini sudah tidak asing di telinga kita. Akan tetapi kenyataan berbicara sebaliknya, Indonesia bukanlah seperti apa yang dielu-elukan oleh para pendahulu kita. U.S. Energy Information Administration, International Energy Outlook pada September 2011 melansir bahwa Indonesia tidaklah termasuk dalam 9 negara yang mempunyai cadangan energi batubara, minyak, dan gas terbesar di dunia.

CoalOilGas
United States27.5%Saudi Arabia17.7%Russia25.2%
Russia18.3%Venezuala14.4%Iran15.7%
China13.3%Canada11.9%Qatar13.4%
Other Non-OECD Europe and Eurasia10.7%Iran9.3%Saudi Arabia4.1%
Australia and New Zealand8.9%Iraq7.8%United States4.1%
India7.0%Kuwait6.9%Turkenistan4.0%
OECD Europe6.5%United Arab Emirates6.7%United Arab Emirates3.4%
Africa3.7%Russia4.1%Nigeria2.8%
Other Central and South America0.9%Libya3.2%Venezuela2.7%
Rest of World3.2%Rest of World18.2%Rest of World24.7%
  Total100.0%  Total100.0%  Total100.0%

Source: U.S. Energy Information Administration, International Energy Outlook, September 2011, Tables 5, 7, and 10.

Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa cadangan batubara Indonesia hanya tersisa 2 – 3 persen dari cadangan batubara dunia dan pada tahun 2015 hanya tersisa 31 miliar ton. Namun, eksploitasi dari produsen batubara sangatlah besar dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011, Indonesia merupakan produsen batubara terbesar ke-5 di dunia dan sebagian besar hasil produksi tersebut lebih banyak diekspor dibanding digunakan di dalam negeri. Pada tahun 2013, Indonesia merupakan negara pengekspor batubara terbesar di dunia.

1

Sumber: DJMB ESDM, 2015

Penggunaan batubara sebagai sumber energi akan semakin tinggi di masa depan. Pemerintah Indonesia dalam Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 mencanangkan pada tahun 2025 penggunaan batubara sebagai sumber energi lebih tinggi dibanding dengan penggunaan minyak bumi, gas alam, dan energi terbarukan.

2

Sumber: www.asiabiomass.jp

Batubara dengan CV tinggi sudah sejak dahulu ditambang di Indonesia. Mayoritas batubara diekspor dan menjadi sumber pendapatan yang sangat signifikan untuk Indonesia. Namun hal ini perlu dievaluasi lagi mengingat kebutuhan batubara di Indonesia untuk pembangkit listrik meningkat. Program 35.000 MW membutuhkan dana investasi di atas Rp1.100 triliun. Untuk menjaga kemampuan finansial, PLN membangun pembangkit 10.000 MW dan 25.000 MW sisanya akan ditawarkan ke pihak swasta (IPP/Independent Power Producer). Dengan menggunakan referensi estimasi PLN, kebutuhan batubara di Indonesia adalah sekitar 3,5 – 4 juta ton per 1.000 MW per tahun. Jika diambil nilai rata-rata kapasitas proyek sekitar 1.200 MW, berarti setiap proyek membutuhkan pemasok batubara dengan kapasitas produksi minimal 10 – 15 juta ton per tahun dan cadangan paling tidak 90 juta ton per proyek yang dipasok oleh produsen yang sama. Mengingat ketiga pertimbangan tersebut, perlu dicari titik temu dimana bisa didapat CV batubara setinggi mungkin dan pasokan batubara tetap memadai. Dalam arti cadangan tersedia dengan cukup melalui pemasok-pemasok dengan kapasitas yang cukup besar. Evaluasi kapasitas produksi yang ada memberikan indikasi bahwa titik ini berada di CV batubara sekitar 4500-5000 kcal/kg dimana terdapat beberapa produsen dengan kapasitas diatas 10 juta ton dengan total cadangan melebihi 2 juta ton.

Mengingat banyaknya pembangkit listrik batubara yang akan dikembangkan dengan skema private public partnership(perjanjian kerja sama atau kontrak antara instansi pemerintah dengan badan usaha/pihak swasta), aspek pendanaan proyek menjadi sangat penting. Dari segi itu, proyek IPP membutuhkan pasokan batubara dari 2 sampai 3 pemasok dengan jejak rekam yang cukup kuat dan cadangan yang memadai. Secara umum sebaiknya kebutuhan batubara dari pemasok tidak melebihi 20% dari kapasitas produksi pada saat ini karena peningkatan kapasitas yang terlalu tinggi dalam waktu yang relatif singkat (3 – 6 bulan) sangat sulit dilakukan oleh produsen tambang. Kementerian ESDM akan mengeluarkan sepuluh paket kebijakan yang akan diterbitkan pada Oktober 2015.

Tujuan Peluncuran Paket Kebijakan EnergiMendorong pertumbuhan ekonomiMenjamin kepastian hukumMemudahkan investasiMenggerakan sektor riilMemperkuat industri hilir
10 Paket Kebijakan Sektor EnergiPengecualian kewajiban L/C ekspor migasPerpres pembangunan kilang minyakPerpres tata kelola gas bumiPerpres kebijakan harga gas bumiPerpres LPG untuk nelayanPerpres konversi BBM ke BBG untuk transportasi daratRPP pelaksanaan kegiatan usaha pertambanganPerpres program 35.000 MWPermen pemanfaatan bahan bakar nabatiPerpres krisis energi dan atau darurat energi

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah untuk memastikan ketersediaan dan keberlanjutan pasokan batubara Indonesia untuk pembangkit listrik. Jangan sampai Indonesia menjadi negara importir batubara sehingga ketahanan serta kemandirian energi menjadi hilang yang mengakibatkan Indonesia akan mudah dikendalikan oleh negara lain dan pada akhirnya rakyat yang akan menanggung bebannya.

SHARE:
Divisi Keprofesian 0 Replies to “PEMANFAATAN BATUBARA SEBAGAI KOMODITAS ENERGI NASIONAL”