Pembukaan serta Penggunaan Gerbang Utara ITB. Efektifkah?

Home / Divisi Kajian / Pembukaan serta Penggunaan Gerbang Utara ITB. Efektifkah?

Pembukaan serta Penggunaan Gerbang Utara ITB. Efektifkah?

Adanya pertumbuhan jumlah mahasiswa serta kebutuhan mobilitas yang meningkat pesat untuk memenuhi aktifitas perkuliahan yang semakin padat. Mengetahui perbedaan yang dirasakan mahasiswa ketika sebelum dan sesudah gerbang belakang ITB, keuntungan yang dirasakan, serta optimalisasi yang diperlukan untuk kedepannya.

Pada pertengahan semester ganjil tahun 2016, terdapat perubahan yang signifikan yang dapat dirasakan oleh hampir seluruh mahasiswa ITB. Gerbang Utara ITB atau yang sering dikenal dengan gerbang belakang, selama ini ditutup dari awal tahun 2013 dengan alasan keamanan karena akan ada pembangunan beberapa gedung besar di bagian utara ITB. Faktanya, gerbang SBM yang menjadi alternatif safety justru gelap, jauh, rawan, dan lain-lain. Disini mulai timbul masalah dan latar belakang kita semua untuk berdiskusi bersama rektorat. Sepanjang lebih dari 3 tahun penutupan gerbang belakang, telah terjadi beberapa kali kasus pembegalan yang memakan korban mahasiswa ITB sendiri.

Keefektifan penggunaan gerbang SBM pun terasa kurang efektif bagi kebanyakan mahasiswa, khususnya mahasiswa non-SBM. Contohnya bagi mahasiswa yang tinggal di daerah Cisitu harus berjalan kaki kurang lebih 200 meter dari tempat penurunan angkot. Padahal ketika melalui gerbang belakang hanya dibutuhkan kurang lebih 30 meter. Itu pun tanpa harus “memutar” di daerah SBM, bagi mahasiswa non-SBM. Dan juga mayoritas mahasiswa yang berkuliah di ITB memiliki tempat tinggal di daerah Cisitu. Selain itu juga dengan pembukaan gerbang belakang, maka daerah yang dulunya kerap dianggap sebagai tempat gelap dan terjadi pembegalan pun menjadi lebih terang dan ramai di malam hari.

Dari semua keuntungan yang dirasakan, tetap terdapat kekurangan yang dirasa dapat dioptimalkan oleh rektorat ITB. Kebutuhan yang paling dirasakan yaitu tempat parkir. Selama ini tempat parkir yang disediakan ITB hanyalah di daerah gerbang depan ITB dan juga di Saraga ITB. Parkiran dekat SBM dirasa kurang aman dan kurang nyaman oleh mahasiswa. Hal ini dikarenakan parkiran tersebut ditangani oleh preman, bukan dari ITB sendiri. Padahal untuk penggunaan sehari-harinya selalu dipakai oleh mahasiswa ITB. Selain itu harga parkiran yang cenderung mahal dan pembatasan jam parkir yang sangat cepat dan denda yang sangat mahal sangat membatasi kegiatan kemahasiswaan yang memang sering dilakukan hingga malam hari. Terlepas dari masalah parkiran yang sangat membatasi kegiatan mahasiswa, pembukaan gerbang belakang ITB sudah memberikan perubahan-perubahan yang lebih baik.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search