Pendidikan Karakter dalam Pembentukan Manusia yang Berkualitas

Home / Uncategorized / Pendidikan Karakter dalam Pembentukan Manusia yang Berkualitas

Pendidikan Karakter dalam Pembentukan Manusia yang Berkualitas

by

Bambang Jaya Kusuma (12112091)

 

“Nama Indonesia kembali harum di kancah internasional. Sebanyak 4 siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tergabung dalam Tim Olimpiade Biologi Indonesia berhasil membawa emas, perak dan perunggu dari kompetisi International Biology Olympiad (IBO) di Aarthus, Denmark 12-19 juli 2015”. Itulah headline berita yang di tulis di Detik Senin 20 Juli 2015 pukul 17.15 WIB.

Dalam ajang internasional seperti olimpiade sains memang utusan dari Indonesia sering menjadi juara umum. Pengetahuan siswa-siswi Indonesia memang terkenal baik dan unggul dalam pemahaman konsep dasar. Namun dalam jenjang usia yang lebih tinggi, Indonesia masih kalah bersaing dengan negara lain bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Setelah melihat realita ini maka akan terlitas suatu pertanyaan dalam setiap orang “bagaimana bisa Indonesia yang anak anaknya sangat cerdas bahkan sering juara olimpiade sains, ketika dewasa bisa dengan mudah dikalahkan oleh negara lain yang prestasi dalam olimpiade sains tidak sebagus Indonesia?

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Secara logika seharusnya dengan modal kecerdasan dasar yang dimiliki Indonesia, negara ini bisa menciptakan manusia-manusia yang unggul dalam berbagai sektor. Tapi hal ini masih belum terjadi sampai sekarang. Rombongan pekerja asing dari berbagai negara menempati sektor dan posisi yang strategis di Indonesia. Kekhawatiran ini semakin muncul saat 2016 dimulainya MEE (Masyarakat ekonomi Asean). Pemerintah Indonesia melalui Menteri Negara Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Anies Baswedan menyatakan bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan di Indonesia terutama dalam sistem kurikulum yang diterapkan. Saat ini Indonesia memakai kurikulum 2013 untuk semua jenjang pendidikan mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Mendikbud menilai ada beberapa poin dalam kurikulum 2013 yang membuat Indonesia kalah bersaing dengan negara lain.

Bila kita merunut masalah dari awal, maka tingkat pertama yang bertanggung jawab atas kegagalan sistem pendidikan di Indonesia adalah tingkat sekolah dasar. Pada kurikulum 2013, sekolah dasar mendapat porsi mata pelajaran yang sangat banyak dalam tiap mingunya. Untuk kelas 1-3 mendapat pembelajaran 30-32 jam di kelas setiap minggu. Untuk kelas 4-6 mendapat porsi lebih banyak yaitu 33-35 jam per minggu dengan alokasi 1 jam pelajaran sama dengan 35 menit. Mata pelajaran yang diajarkan pun sangat banyak mulai dari matematika, bahasa indonesia, bahasa inggris, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, agama, pkn, olahraga dan berbagai macam muatan lokal. Dalam kurikulum Indonesia, setiap anak harus menguasai dan lulus dalam semua mata pelajaran tersebut agar bisa naik tigkat dan lulus. Hal ini sering menimbulkan rasa frustasi pada anak ketika mereka harus menguasai mata pelajaran yang mereka tidak sukai. Dalam kurikulum ini pun guru dituntut untuk bisa menjadi fasilitator yang baik. Selain memberi pembelajaran materi dengan baik, seorang guru juga harus bisa memberi contoh aplikatif dan mendorong anak lebih kreatif. Namun fakta dilapangan berbicara lain, guru guru mengeluhkan kurikulum 2013 dan kurang memberikan guru pelatihan yang cukup. Akibatnya guru kembali mengajar secara konvensional dan tujuan dari kurikulum 2013 pun tidak tercapai.

            Lantas bagaimana dengan pendidikan SD di negara lain?

Sebagai perbandingan kita lihat bagaimana sistem pendidikan di Jepang. Jepang memang terkenal memiliki kurikulum pendidikan yang baik. Siswa SD di jepang hanya diwajibkan untuk menguasai sedikit mata pelajaran. Untuk kelas 1-3 hanya mata pelajaran matematika, bahasa jepang, sejarah jepang dan olahraga. Sedangkan untuk kelas 4-6 ditambah dengan pengantar ilmu alam dan ilmu sosial. Kurikulum di jepang menekankan pembentukan karakter terlebih dahulu untuk setiap siswa SD bukan pada kemampuan eksak yang super seperti anak anak Indonesia. Pada kelas 1-3 anak anak di jepang di ajarkan kemampuan berpikir analitis yang baik dan rasa bangga pada negara terlebih dahulu. Sedangkan untuk kelas 4-6 baru diberi sedikit pengantar tentang ilmu sosial dan ilmu alam. Hasilnya adalah anak anak jepang akan memiliki kebanggaan yang besar pada negaranya. Akhlak dan perilaku anak-anak SD jepang pun terlihat baik. Hal ini dikarenakan ajaran agama diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bekal ilmu dan kepribadian yang baik maka anak-anak SD di jepang memiliki modal besar untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya sampai perguruan tinggi. Maka bukan hal yang aneh jika lulusan jepang terkenal berkualitas dan sangat berintegritas tinggi.

Lalu apa yang harus dilakukan Indonesia?

Pemerintah Indonesia sekarang sudah sadar bahwa pendidikan moral dan karakter sangat penting dalam pembentukan kualitas SDM yang baik. Saat ini sudah diajarkan pendidikan akhlak dan kewarganegaraan sejak dini. Pemerintah ingin membentuk manusia Indonesia yang cerdas dan berdaya saing tinggi namun memiliki rasa kebanggan dan kepribadian sebagai pemenang. Pemerintah tidak ingin ada orang Indonesia yang cerdas namun pada akhirnya menjadi warga negara asing karena merasa tidak dihargai. Maka dari itu langkah yang diambil presiden Indonesia Bapak Jokowi sudah tepat yaitu dengan menanamkan pendidikan karakter sedini mungkin tanpa melupakan pendidikan eksak dan keterampilan.

Semoga dimasa yang akan datang bukan hanya tingkat SD, SMP atau SMA yang menjadi juara olimpiade sains internasional tapi saat dewasa pun manusia Indonesia dapat bersaing dengan bangsa asing dan membawa negara kita ini lebih baik lagi.

Recent Posts
Comments
  • Emir
    Reply

    Saya setuju. Menurut saya Anak Indonesia memiliki latar belakang yang cerdas. Bayangkan saja di tingkat SD mereka sudah bisa mempelajari belasan pelajaran dan bisa mendapat nilai diatas rata-rata. Pendidikan di Indonesia harus diperbaiki untuk masa depan Bangsa

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

featuredA man reacts next to a building that was destroyed when a tsunami hit on Sunday in Cuddalore, India.