Sampah dan Pengelolaannya

Home / Uncategorized / Sampah dan Pengelolaannya

Sampah dan Pengelolaannya

by

Tim Sosial Kemasyarakatan HMT-ITB Kepengurusan 2015/2016

Sampah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Sementara didalam UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang kelingkungan.

Walikota Bandung Ridwan Kamil menjelaskan, saat liburan, produksi sampah meningkat dan 90% sampah disumbangkan oleh warga luar Kota Bandung atau wisatawan. “Peningkatan jumlah sampah 90% disumbangkan oleh wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung. Kalau warga Kota Bandungnya sendiri menurut saya sudah tersentuh kepedulian terhadap kebersihan,” kata Ridwan Kamil, Kamis 23 Juli 2015.

Orang nomor satu di Kota Bandung ini menyebut, peningkatan jumlah sampah di beberapa lokasi dinilai wajar dan menandakan lokasi tersebut populer, serta menjadi salah satu destinasi wisata.”Banyak tidaknya sampah relatif, tergantung manusianya. Semakin populer sebuah tempat semakin banyak manusia dan pasti membawa volume sampah yang berbanding lurus,” terang dia.

Oleh karena itu ini menjadi salah satu kewajiban kita sebagai mahasiswa untuk menciptakan inovasi inovasi baik itu berupa teknologi maupun regulasi mengenai pengelolaan sampah agar sampah ini tidak hanya menjadi penyebab masalah melainkan sebagai salah satu penyumbang pendapatan.

            Menurut Undang-undang No. 18 Tahun 2008 pengelolaan sampah didefinisikan sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Kegiatan pengurangan meliputi:

  • Pembatasan timbulan sampah
  • Pendauran ulang sampah, dan/atau
  • pemanfaatan kembali sampah

Sedangkan kegiatan penanganan meliputi:

  • Pemilihan
  • Pengumpulan
  • Pengangkutan
  • Pengolahan
  • Pemrosesan akhir sampah

Dilihat dari keterkaitan terbentuknya limbah, khususnya limbah padat, ada 2 (dua) pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan akibat adanya limbah, yaitu:

  1. Pendekatan proaktif: yaitu upaya agar dalam proses penggunaan bahan akan dihasilkan limbah yang seminimal mungkin, dengan tingkat bahaya yang serendah mungkin.
  2. Pendekatan reaktif: yaitu penanganan limbah yang dilakukan setelah limbah tersebut terbentuk

            Pendekatan proakatif merupakan strategi yang diperkenalkan pada akhir tahun 1970-an dalam dunia
industri, dikenal sebagai proses bersih atau teknologi bersih yang bersasaran pada pengendalian
atau reduksi terjadinya limbah melalui penggunaan teknologi yang lebih bersih dan yang akrab lingkungan. Konsep ini secara sederhana meliputi:
− Pengaturan yang lebih baik dalam manajemen penggunaan bahan dan enersi serta limbahnya melalui good house keeping
− Penghematan bahan baku, fluida dan enersi yang digunakan
− Pemakaian kembali bahan baku tercecer yang masih bisa dimanfaatkan
− Penggantian bahan baku, fluida dan enesi
− Pemodifikasian proses bahkan kalau perlu penggantian proses dan teknologi yang digunakan agar emisi atau limbah yang dihasilkan seminimal mungkin dan dengan tingkat bahaya yang serendah mungkin
− Pemisahan limbah yang terbentuk berdasarkan jenisnya agar lebih mudah penanganannya

Pendekatan reaktif, yaitu konsep yang dianggap perlu diperbaiki, adalah konsep dengan upaya

pengendalian yang dilakukan setelah limbah terbentuk, dikenal sebagai pendekatan end-of-pipe.

Konsep ini mengandalkan pada teknologi pengolahan dan pengurugan limbah, agar emisi dan residu

yang dihasilkan aman dilepas kembali ke lingkungan. Konsep pengendalian limbah secara reaktif

tersebut kemudian diperbaiki melalui kegiatan pemanfaatan kembali residu atau limbah secara langsung

(reuse), dan/atau melalui sebuah proses terlebih dahulu sebelum dilakukan pemanfaatan (recycle)

terhadap limbah tersebut.

Secara ideal kemudian pendekatan proses bersih tersebut dikembangkan menjadi konsep hierarhi

urutan prioritas penanganan limbah secara umum, yaitu :

  1. Langkah 1 Reduce (pembatasan): mengupayakan agar limbah yang dihasilkan sesedikit mungkin
  2. Langkah 2 Reuse (guna-ulang): bila limbah akhirnya terbentuk, maka upayakan memanfaatkan limbah tersebut secara langsung
  3. Langkah 3 Recycle (daur-ulang): residu atau limbah yang tersisa atau tidak dapat dimanfaatkan secara langsung, kemudian diproses atau diolah untuk dapat dimanfaatkan, baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersi
  4. Langkah 4 Treatment (olah): residu yang dihasilkan atau yang tidak dapat dimanfaatkan kemudian diolah, agar memudahkan penanganan berikutnya, atau agar dapat secara aman dilepas ke lingkungan
  5. Langkah 5 Dispose (singkir): residu/limbah yang tidak dapat diolah perlu dilepas ke lingkungan secara aman, yaitu melalui rekayasa yang baik dan aman seperti menyingkirkan pada sebuah lahan-urug (landfill) yang dirancang dan disiapkan secara baik
  6. Langkah 6 Remediasi: media lingkungan (khusunya media air dan tanah) yang sudah tercemar akibat limbah yang tidak terkelola secara baik, perlu direhabilitasi atau diperbaiki melalui upaya rekayasa yang sesuai, seperti bioremediasi dan sebagainya.

            Oleh karena itu marilah olah sampah yang ada disekitar kita agar menjadi barang yang dapat berguna bagi lingkungan.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

featuredfeatured