Sejarah Perkembangan Mata Uang Rupiah dan Kontroversi Mata Uang

Home / Divisi Kajian / Sejarah Perkembangan Mata Uang Rupiah dan Kontroversi Mata Uang

Sejarah Perkembangan Mata Uang Rupiah dan Kontroversi Mata Uang

Setelah terbentuk NKRI, dalam hal sistem keuangan pemerintah berupaya untuk menghapuskan hal-hal yang berbau Belanda. Salah satu yang dilakukannya adalah menggantikan mata uang terbitan Belanda berdenominasi rendah dengan koin Rupiah pecahan 1, 5, 10, 25, dan 50 sen, serta penerbitan uang kertas 1 dan 2 1/2 Rupiah. Selain itu pemerintah juga menasionalkan De Javasche Bank dan merubah namanya menjadi Bank Indonesia. Di tahun 1952-1953, Bank Indonesia mulai merilis uang kertas baru, mulai dari 1 Rupiah hingga 100 Rupiah. Ini menandai periode baru dalam sejarah Rupiah, dimana penerbitan dan peredaran uang kertas Rupiah kini menjadi tugas Bank Indonesia, sedangkan uang koin masih ditangani oleh Pemerintah secara terpisah. Barulah pada masa Orde Baru, Bank Indonesia diberi wewenang untuk mencetak dan menerbitkan uang, baik dalam bentuk koin ataupun kertas, serta mengatur peredarannya.

Tahun 2016, Bank Indonesia kembali mengeluarkan uang kertas dan koin baru yang menuai berbagai respon, ada yang pro dan ada juga yang kontra. Kebanyakan dari respon terhadap munculnya uang rupiah emisi 2016 bisa dikatakan bernuansa politis. Terlebih saat diumumkannya uang emisi 2016 ini bertepatan dengan masa kampanye pemilu kepala daerah yang sejak awal sudah banyak beredar isu-isu yang tidak mengenakkan. Beberapa respon terhadap munculnya uang rupiah baru ini seperti: mirip Yuan (mata uang Cina), sedikitnya uang yang bergambar pahlawan beragama Islam, dan juga terdapat mata uang yang bergambar pahlawan dari tanah Papua.

Kontroversi pemilihan pahlawan di uang baru Indonesia, seperti mirip dengan Yuan, mata uang Cina, dan pemilihan pahlawan nasional yang ada pada masing-masing pecahannya, dibantah oleh pihak Bank Indonesia, Bank Indonesia menyatakan bahwa uang rupiah emisi 2016 ini merupakan desain otentik dari mereka, dan jika ada pihak yang menyatakan bahwa uang baru ini mirip mata uang negara lain itu sama sekali tidak benar, kemudian pemilihan tokoh pahlawan yang terdapat pada masing-masing pecahannya sudah dilakukan dalam tahap yang sangat panjang dan sudah dikoordinasikan,

aaaa

Salah satu tokoh pahlawan yang terdapat pada rupiah baru emisi 2016 adalah Frans Kaisiepo. Frans Kaisiepo adalah salah satu pahlawan yang berasal dari tanah papua. Banyak pro dan kontra yang muncul di masyarakat dari pemilihan Frans Kaisiepo dalam uang pecahan Rp. 10.000, seperti banyaknya masyarakat yang tidak mengenalnya, bahkan ada beberapa orang yang mempertanyakan apa jasa yang telah dilakukannya, namun kemunculan Frans Kaisiepo dalam mata uang rupiah pecahan Rp. 10.000 juga memunculkan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat bumi Papua, masyarakat papua merasa bangga dan senang dengan munculnya pahlawan asli Papua pada uang baru. Hal ini pun bisa dilihat dari banyaknya penukaran uang lama dengan uang baru emisi 2016 di Papua yang mana mereka ingin menukarkan uangnya dengan mata uang rupiah baru emisi 2016 pecahan 10.000 dibandingkan dengan pecahan yang lain.

Kontroversi lain yang muncul ialah adanya yang mempermasalahkan tentang pahlawan yang dimunculkan pada gambar mata uang, dari 11 pahlawan, 5 gambar diantaranya merupakan pahlawan non muslim. Hal ini jelas langsung menimbulkan polemic di masyarakat. Untungnya, Bank Indonesia segera memberikan pernyataan terkait hal ini. Bahwasannya dalam memilih pahlawan yang akan dicantumkan pada pecahan mata uang baru merupakan pahlawan yang sebelumnya belum pernah digunakan pada mata uang rupiah dan mewakilkan tiap daerah tanpa memperhatikan latar belakang agama dan gender.

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search