Tentang Aliran Kepercayaan yang Kini Bisa Masuk Kolom Agama KTP

Home / Divisi Kajian / Tentang Aliran Kepercayaan yang Kini Bisa Masuk Kolom Agama KTP

Tentang Aliran Kepercayaan yang Kini Bisa Masuk Kolom Agama KTP

Tentang Aliran Kepercayaan yang Kini Bisa Masuk Kolom Agama KTP

Selasa 07 November 2017, 15:51 WIB

Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan gugatan Nggay Mehang Tana, Pagar Demanra Sirait, Arnol Purba dkk sehingga penghayat kepercayaan bisa masuk kolom agama di KTP. Ketua MK Arief Hidayat menganggap penghayat kepercayaan mengalami perlakuan tak adil ketika tak bisa mencantumkan kepercayaan yang dia anut di KTP.

“Pembatasan hak a quo justru menyebabkan munculnya perlakuan yang tidak adil terhadap warga negara penghayat kepercayaan sebagaimana yang didalilkan oleh para Pemohon. Dengan tidak dipenuhinya alasan pembatasan hak sebagaimana termaktub dalam Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 maka pembatasan atas dasar keyakinan yang berimplikasi pada timbulnya perlakukan berbeda antarwarga negara merupakan tindakan diskriminatif,” ujar Arief di Gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Selasa (7/11/2017).

Sidang gugatan ini sudah berlangsung cukup lama dan juga memanggil sejumlah ahli. Salah satu ahli yang dipanggil berasal dari Universitas Indonesia, Sidharta.

“Jadi, sebetulnya agama mana yang disebut diakui dan tidak diakui, kadang-kadang juga tergantung kepentingan politik juga,” kata Sidharta yang dikutip detikcom dari risalah sidang pada website MK, Jumat (5/5/2017).

Dia juga menyatakan Indonesia belum punya definisi agama, baik dalam undang-undang atau regulasi lainnya. Dia mencontohkan tentang pengakuan agama Kong Hu Cu di era reformasi yang sebelumnya tak diakui pada zaman Orde Baru. Sehingga pengakuan terhadap agama tertentu, kata dia, sarat akan kepentingan pemangku kebijakan.

“Pada periode kedua Orde Baru, mulai 1978, agama mulai ‘diresmikan’, saya pakai tanda kutip, karena ini politik,” ujar Samsul Marif, saksi ahli lainnya yang juga mengajar mata kuliah Indigenous Religions (Agama-agama Lokal) di Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), UGM, Yogyakarta.

Salah satu penghayat kepercayaan yang hadir di persidangan MK pernah menyatakan, aliran kepercayaan sudah ada jauh sebelum Republik Indonesia merdeka. Padahal di kepercayaan mereka, ada tugas yang harus dituntaskan. Namun mereka merasa didiskriminasi karena tak bisa mencantumkan kepercayaannya.

“Kita punya tugas dari leluhur untuk menjaga sebagai paku bumi Nusantara, bagi kami istilahnya begitu (…) Kami ada jauh sebelum negara kesatuan republik ini ada dan kami betul-betul ingin menitipkan suara hati anak-anak negeri ini,” ujar Dewi Kanti, penghayat Sunda Wiwitan dalam sidang pada 2 Februari 2017 lalu.

Sidang gugatan atas Pasal 61 ayat 1 dan ayat 2 UU Administrasi Kependudukan ini memang tak secara spesifik membahas definisi dari aliran kepercayaan. Meski demikian, Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) pernah menyebut bahwa penghayat kepercayaan di Indonesia berjumlah sekitar 12 juta orang.
Prof Dr Edi Sedyawati dalam buku Dialog Budaya Spiritual yang diterbitkan oleh Ditjen Kebudayaan Kemdikbud tahun 2000 memaparkan tentang ‘penghayat kepercayaan’. Dia menyoroti aspek keanekaragamannya.

“Tinjauan dari segi substansi akan mengharuskan kita menyimak, apakah kiranya hal yang dipercayai itu. Dalam rumusan yang kita sepakati dewasa ini, untuk merangkum segala rincian penjelasan dari berbagai sistem kepercayaan sekitar “Yang Adikodrati” dan “Yang Tertinggi/Terbenar” itu, kita gunakan “Tuhan Yang Maha Esa”,” papar dia.

Dia lalu mencontohkan, ketika konsep ‘Yang Maha Benar’ adalah tunggal, maka bisa dikatakan bahwa Tuhan adalah persona kepada siapa manusia memohon. Sehingga setiap agama memiliki ‘Yang Maha Benar’ sebagai tujuan mereka memohon dan berdoa.

“Tipe ini dapat dicontohkan oleh Allah dalam agama Islam dan Nasrani, Isvara dalam agama Hindu-Siwa atau Sang Hyang Widi dalam agama Hindu Dharma di bali sekarang, serta Bungan Malan dalam kepercayaan Dayak Kenyah,” kata Sedyawati.

Ada pula tipe yang menganggap ‘Yang Maha Benar’ adalah jiwa semesta seperti dalam pemikiran Vendata tentang Brahman. Tipe selanjutnya adalah yang menganggap ‘Yang Maha Benar’ sebagai ketiadaan mutlak yang disebut ‘Nirvana’, menurut Edi Sedyawati.

Dalam buku yang sama, Prof Dr Usman Pelly, mencontohkan tentang ‘bentuk ungkapan’ kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut penghayat kepercayaan. Dia mencontohkan tentang Paguyuban Gunung Jati di Jawa Timur yang percaya bahwa selama jagad masih berada di situlah Tuhan berada. Kelompok penghayat itu mengungkapkan jarak antara Tuhan dengan manusia dengan ‘adoh tanpa wangenan, cedak tanpa senggolan’ atau ‘jauh tanpa batas, dekat tanpa senggolan’.

Usman lalu menjelaskan tentang makna Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut Sarasehan Nasional Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bulan November 1981. Ada pun sarasehan itu membuat rumusan sebagai berikut:

Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah pernyataan dari pelaksanaan hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa, berdasarkan keyakinan yang diwujudkan dengan perilaku ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, atau peribadatan serta pengamalan budi luhur.

“Para penghayat meyakini bahwa semua makhluk di muka bumi diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa,” kata Usman Pelly.

Karen Armstrong dalam bukunya, The History of God (1993) yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Mizan, menuliskan bahwa pada mulanya manusia menganggap Tuhan sebagai penyebab pertama bagi segala sesuatu dan penguasa langit dan bumi. Kepercayaan terhadap Tuhan Tertinggi juga dianut oleh suku-suku pribumi Afrika.
(bag/tor)

Khawatir Penganut Agama Beralih jadi Penghayat Kepercayaan

Rabu, 08 November 2017 – 15:20 WIB

 jpnn.com, JAKARTA – Anggota Komisi II DPR Achmad Baidowi mengaku kaget dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan penghayat kepercayaan bisa menyantumkan identitasnya itu dalam kolom agama di kartu tanda penduduk (KTP) maupun kartu keluarga (KK).

Meski demikian, kata dia, karena sudah diputuskan MK, maka harus dilaksanakan.

“Karena Indonesia adalah negara berdasarkan ketuhanan, maka seharusnya semua WNI (warga negara Indonesia) memeluk agama resmi negara,” kata Baidowi saat dihubungi wartawan, Rabu (8/11).

Menurut dia, yang jelas nanti jumlah pengikut penghayat kepercayaan semakin banyak yang menyantumkan identitasnya itu di KTP dan KK.

Dia juga khawatir penganut agama resmi beralih menjadi penghayat kepercayaan.

“Bahkan bisa disalahgunakan oleh pemeluk agama untuk menghindari kewajiban ajaran agama bisa berdalih (berlindung) dengan identitas aliran kepercayaan,” kata dia.

Menurut Baidowi, setiap ada putusan MK terkait pengujian undang-undang (PUU) memang harus ditindaklanjuti dengan revisi UU.

Ketua Komisi II DPR Zainudin Amali mengatakan, setelah reses akan rapat dengan Kemendagri menanyakan bagaimana cara mereka menindaklanjuti putusan MK itu.

“Kalau saya melihat berdasarkan UU dan yang dibatalkan adalah ketentuan dan dalam pasal UU maka tentu kita harus ada revisi dan perubahan dalam UU itu,” kata Zainudin, Rabu (8/11). (boy/jpnn)

Per tanggal 7 November 2017 pada kolom agama di ktp sudah dapat diisi dengan agama kepercayaan selain agama yang “diakui” di Indonesia. Hal ini meruntut pada putusan hakim agung MK atas gugatan Nggay Mehang Tana, Pagar Demanra Sirait, Arnol Purba dan Carlim dengan nomor perkara 97/PUU-XIV/2016. Berdasarkan hasil putusan tersebut sekarang terdapat 7 pilihan dalam kolom agama di KTP.

Gugatan terjadi karena rasa ketidakadilan yang dialami oleh para penganut agama kepercayaan. Putusan ini berdasar pada UUD 45 pasal 28j ayat 2 dimana setiap warga bebas memeluk agama dan kepercayaannya. Sedangkan Indonesia sendiri belum memiliki batasan mana “agama” yang diakui dan disahkan. Agama mulai diresmikan pada saat Orde Baru dengan pengaruh politik yang kuat saat itu. Indonesia belum memiliki pendifinisian agama yang baik dan benar. Sebagai contoh agama Kong Hu Cu yang tidak diakui saat orde baru namun diakui saat masa reformasi. Selain itu jumlah penganut kepercayaan di Indonesia sendiri cukup besar sekitar 12 juta penganut. Sehingga membuat kemungkinan bahwa kepercayaan dapat masuk kedalam kategori agama. Putusan ini berakibat tidak adanya pemaksaan pengisian kolom agama pada KTP lagi, hal ini yang menjadi satu alas an terbesar atas gugatan ini.

Kelebihan :

  • Timbulnya rasa toleransi pada penganut agama kepercayaan.
  • Melestarikan tradisi dan adat yang sudah ada sebelum “agama impor” masuk ke Indonesia dimana tradisi dan adat tersebut identik dengan agama kepercayaan.
  • Menghilangkan diskriminasi pada penganut agama kepercayaan.
  • Memudahkan penganut agama kepercayaan dalam pengisian surat administratif negara seperti akta lahir, ktp, dll. Sehingga tidak perlu berbohong mengenai agamanya.

Kekurangan :

  • Dapat memunculkan “agama abal – abal” menggunakan dasar agama kepercayaan.
  • Muncul pandangan dan sikap berbeda (diskriminasi) yang baru pada penganut agama kepercayaan.
  • Muncul permasalahan pada pengisian data penduduk di dukcapil (Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri).
  • Penganut agama mulai berganti ke agama kepercayaan. (belum tentu buruk).

Sumber :

http://www.madinaonline.id/sosok/wawancara/tokoh-penghayat-kepercayaan-sudah-mati-pun-kami-masih-didiskriminasi/

https://www.jpnn.com/news/khawatir-penganut-agama-beralih-jadi-penghayat-kepercayaan?page=2

https://nasional.sindonews.com/read/1257552/15/babak-baru-penghayat-aliran-kepercayaan-di-indonesia-1510721923/13

https://nasional.kompas.com/read/2017/11/09/12190141/ada-187-kelompok-penghayat-kepercayaan-yang-terdaftar-di-pemerintah

https://news.detik.com/berita/d-3717005/tentang-aliran-kepercayaan-yang-kini-bisa-masuk-kolom-agama-ktp

https://news.okezone.com/read/2017/11/07/337/1809826/gugatan-dikabulkan-mk-aliran-kepercayaan-bisa-dimasukan-di-kolom-ktp-dan-kk

http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41896706

13 Maret 2018

 

Recent Posts

Leave a Comment

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search