September 9, 2019

Improvisasi Efisiensi Energi dan Reduksi Emisi serta Peningkatan Nilai Ekonomis pada Pemanfaatan Batubara dalam Menunjang Sustainable Development Goals dengan Penerapan PLTU Superkritikal dan PLTU Mulut Tambang di Indonesia

Oleh: Faris Pamungkas (12116006)

Sustainable Development Goals (SDG) atau tujuan pembangunan berkelanjutan merupakan seperangkat program dan target pembangunan untuk dan oleh semua negara anggota PBB, termasuk Indonesia. SDG berlaku sejak 2016 hingga 2030. Sustainable Development Goal (SDG) terikat secara sosial dan moral untuk melaksanakannya. Terdapat 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang telah disepakati oleh 193 negara. Tujuan pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan pada berbagai bidang, salah satunya adalah dunia pertambangan. Dunia pertambangan sangat erat dengan kegiatan penambangan bahan galian logam, non-logam, maupun batu bara.

Pada paper berjudul Mapping Mining to the Sustainable Development Goals : An Atlas (2016, Juli) terdapat 17 poin SDGs yang salah satu poinnya adalah Mining and Climate Action (SDG13) yang meliputi pengurangan emisi dengan melakukan improvisasi efisiensi energi. Pengurangan emisi dengan melakukan improvisasi efisiensi energi dapat dilakukan dengan melakukan langkah-langkah strategis pada pemanfaatan sumber energi di Indonesia. Salah satu sumber energi yang digunakan di Indonesia adalah batu bara dan karya tulis ini akan membahas tentang pemanfaatan batu bara pada PLTU Superkritikal dan PLTU Mulut Tambang di Indonesia.

Dalam buku berjudul Sumber Daya Batubara (World Coal Institute) disebutkan bahwa batu bara memiliki berbagai penggunaan yang penting di seluruh dunia. Penggunaan yang paling penting adalah untuk membangkitkan tenaga listrik, produksi baja, pembuatan semen, dan proses industri lainnya serta sebagai bahan bakar cair. Dalam pembangkitan tenaga listrik dengan menggunakan batu bara dapat dilakukan dengan mekanisme penggunaan batu bara sebagai bahan bakar untuk memanaskan air pada ketel uap, selanjutnya air yang telah dipanaskan menghasilkan uap bertekanan tinggi dan uap tersebut akan memutar turbin yang dari hasil perputaran turbin itu dapat menghasilkan listrik. Selanjutnya uap air yang telah melewati turbin akan memasuki kondensor untuk diubah menjadi fasa cair dan setelah itu mengalami pemanasan pada ketel. Proses ini berlangsung secara terus menerus. Terdapat 3 (tiga) jenis batu bara Indonesia berdasarkan nilai kalornya, yaitu 3.300 kcal/kg, 4.100 kcal/kg, dan 5.500 kcal/kg dalam kondisi as received yang dapat digunakan sebagai bahan bakar PLTU. Sehingga batu bara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memanaskan air menjadi uap air yang memiliki tekanan yang tinggi.

Pada buku berjudul PLTU Batu Bara Superkritikal yang Efisien (BPPT, 2015) disebutkan bahwa PLTU batubara dengan teknologi superkritikal dapat dikembangkan karena efisiensi pembangkit meningkat, biaya bahan bakar berkurang, dan beban emisi menurun. Dengan biaya bahan bakar berkurang maka dapat mengurangi cost untuk pengembangan PLTU Superkritikal, selain itu karena beban emisi menurun maka biaya yang dikeluarkan untuk menerapkan teknologi yang ramah lingkungan menjadi berkurang. Hal ini sejalan dengan poin ke-13 SDG sehingga pengembangan PLTU Superkritikal dengan bahan bakar batu bara di Indonesia merupakan suatu hal yang harus diterapkan dan dikembangkan. Berdasarkan RUPTL PT. PLN Tahun 2015-2024, pada sistem kelistrikan Jawa-Bali, PLN telah merencanakan PLTU batu bara kelas 1.000MW dengan teknologi ultra super kritikal untuk memperoleh efisiensi yang lebih baik dan emisi CO2 yang lebih rendah. Saat ini PLTU batu bara di Jawa telah mengaplikasikan teknologi superkritikal pada kapasitas dibawah 1000MW yaitu PLTU Paiton III 865MW dan PLTU Cirebon 700MW.

PLTU Mulut Tambang merupakan PLTU yang didirikan di dekat lokasi penambangan batu bara. PLTU Mulut Tambang menggunakan bahan bakar batu bara dengan kualitas rendah (<5.100 kkal/kg). Separuh sumberdaya batu bara yang ada berkalori rendah (< 5100 kcal/kg) dan batu bara kalori rendah tidak ekonomis untuk ditransportasi, sehingga untuk batu bara dengan kualitas rendah dapat dimanfaatkan di dalam negeri sebagai bahan bakar PLTU Mulut Tambang guna memenuhi kebutuhan energi khususnya listrik dalam negeri. Selain itu, karena lokasi PLTU Mulut Tambang didirikan dekat dengan lokasi penambangan batu bara maka biaya pengangkutan batu bara menuju PLTU dapat dikurangi. Tidak hanya membahas biaya akan tetapi penggunaan bahan bakar untuk mentransportasikan batu bara menuju PLTU menjadi lebih berkurang.

Penggunaan teknologi pada PLTU Superkritikal dan PLTU Mulut Tambang yang dapat meningkatkan efisiensi energi serta dapat mereduksi emisi gas yang dihasilkan membuat pengembangan PLTU Superkritikal dan PLTU Mulut Tambang penting untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan karena sumberdaya batu bara di Indonesia cukup banyak sehingga untuk menghasilkan energi listrik yang murah dan menghasilkan emisi yang cukup rendah dapat digunakan batu bara sebagai sumber energi di Indonesia. Akan tetapi, dalam pemanfaatannya untuk kurun waktu 25-50 tahun ke depan, penggunaan batubara dan kegiatan ekspor batu bara harus dihemat guna menjaga kebutuhan batu bara dalam negeri agar dapat bertahan sampai beberapa puluh tahun ke depan.

Penerapan PLTU Superkritikal dan PLTU Mulut Tambang merupakan salah satu strategi dalam pemenuhan kebutuhan energi yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Strategi lain yang harus dilakukan adalah dengan mengembangkan teknologi Energi Baru Terbarukan (EBT). Pengembangan teknologi EBT di Indonesia penting untuk dilakukan karena sumberdaya batu bara di Indonesia semakin lama akan semakin habis. Beberapa contoh pengembangan teknologi EBT di Indonesia adalah dengan pengembangan pembangkit listrik tenaga matahari, PLTB, dan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Seiring dengan berjalannya penerapan PLTU Superkritikal dan PLTU Mulut Tambang, maka perlu dikembangkan dan diterapkan teknologi EBT di Indonesia agar pada saat sumberdaya batu bara semakin habis maka Indonesia telah mampu membangkitkan listrik dengan sumber energi baru dan terbarukan sehingga kebutuhan listrik dalam negeri dapat terus tercukupi.

Dalam menunjang poin ke-13 tujuan pembangunan berkelanjutan yang membahas tentang improvisasi efisiensi energi, reduksi emisi, dan peningkatan nilai ekonomis dapat dilakukan dengan menerapkan PLTU Superkritikal dan PLTU Mulut Tambang dengan batu bara sebagai bahan bakarnya. Hal ini disebabkan karena teknologi dan keterjangkauan lokasi pada PLTU Superkritikal dan PLTU Mulut Tambang memungkinkan untuk meningkatnya efisiensi energi dalam pembangkitan listrik, mengurangi emisi gas buang pada proses pembakaran batu bara, dan memiliki nilai ekonomis dalam menerapkan serta mengembangkan PLTU Superkritikal dan PLTU Mulut Tambang di Indonesia. Sehingga pemenuhan kebutuhan energi listrik di Indonesia dapat terus tersedia dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 2015. PLTU Batubara Superkritikal Yang Efisien. Tangerang Selatan : Balai Besar Teknologi Energi.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 2018. Outlook Energi Indonesia 2018. Jakarta : Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi.

World Coal Institute. Sumber Daya Batubara, Tinjauan Lengkap Mengenai Batubara. White Paper. (2016, Juli).

Mapping Mining to the Sustainable Development Goals : An Atlas. diakses pada tanggal 21 Januari 2019, pukul 03.00 WIB dari http://www.undp.org/content/dam/undp/library/Sustainable%20Development/Extr actives/Mapping_Mining_SDGs_An_Atlas_Executive_Summary_FINAL.pdf

Bahagijo, Sugeng. (2017, Maret 29). [OPINI] Perpres SDG dan Tata Kelola. diakses pada tanggal 21 Januari 2019, pukul 01.05 WIB dari https://www.infid.org/perpres-sdgdan-tata-kelola/

Ensiklopedia Bebas, Wikipedia. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. diakses pada tanggal 21 Januari 2019, pukul 02.00 WIB dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tujuan_Pembangunan_Berkelanjutan

SHARE:
Divisi Kajian 0 Replies to “Improvisasi Efisiensi Energi dan Reduksi Emisi serta Peningkatan Nilai Ekonomis pada Pemanfaatan Batubara dalam Menunjang Sustainable Development Goals dengan Penerapan PLTU Superkritikal dan PLTU Mulut Tambang di Indonesia”