September 9, 2019

PROSPEK OTOMATISASI DUNIA PERTAMBANGAN

Oleh: Kevin Agustinus (12116068)      

      Bagi orang awam, dunia pertambangan identik dengan kerusakan lingkungan, kecelakaan tambang, serta pekerjaan primitif yang tidak mengenal kemajuan teknologi. Pada kecelakaan tambang, hal tersebut seringkali disebabkan oleh faktor manusia, baik sebagai korban ataupun sebagai faktor yang lalai. Untuk mengurangi risiko yang disebabkan oleh faktor manusia, otomatisasi terhadap alat-alat yang bekerja pada sektor pertambangan dapat menjadi solusi. Selain meminimalkan faktor kelalaian dan risiko kecelakaan manusia, otomatisasi juga dapat memberikan efisiensi yang lebih besar, kontrol secara holistik dan real-time, meningkatkan produksi, serta mengurangi biaya operasi. Otomatisasi tambang dapat terjadi seiring kemajuan teknologi yang tersedia.

MANFAAT

Otomatisasi dapat mengatasi kecelakaan manusia pada lingkup pertambangan. Kecelakaan tambang dapat terjadi pada lingkungan pertambangan yang pada dasarnya berisiko tinggi, seperti akibat dari gas berbahaya, gas beracun, kebakaran, aktivitas peledakan, longsoran, serta runtuhnya atap terowongan. Menurut ESDM, pada tahun 2017 di Indonesia, kecelakaan tambang tercatat sebanyak 62 minor, 80 major, dan 11 fatal. Kecelakaan yang terjadi pada manusia dapat menghentikan produksi, sehingga sangat merugikan, dan sangat dihindari perusahaan. Ketika otomatisasi dilaksanakan, risiko terhentinya produksi akibat kecelakaan akan jauh menurun. Selain itu, operasi penambangan juga dapat dilakukan pada lokasi yang terlalu berbahaya untuk manusia (seperti lokasi terlalu panas, gas beracun terlalu pekat), sehingga jumlah cadangan yang dapat ditambang pada suatu kawasan akan menjadi lebih besar.

Otomatisasi dapat meningkatkan produksi dan efisiensi. Proses penambangan konvensional oleh operator seringkali menyisakan material berharga yang tidak tertambang, ataupun terjadi dilusi karena material pengotor ikut tertambang. Dengan perhitungan mesin yang jauh lebih akurat dan konsisten, perolehan hasil tambang akan lebih besar, serta peluang terjadinya dilusi semakin berkurang. Selain perolehan hasil tambang, efisiensi kerjapun (termasuk kerja malam) akan meningkat karena mesin tidak perlu tidur, makan, ngopi, pergi ke toilet. Rio Tinto misalnya, dengan otomatisasi telah mengurangi downtime cost, mengurangi biaya operasi sebesar 15%, serta menambah produktivitas 10%. Risiko terganggunya produksi akibat mogok kerja karyawan juga akan jauh menurun akibat otomatisasi.

Pada dasarnya, biaya penambangan (baik owning cost ataupun operating cost) sangatlah besar. Salah satu biaya operating cost terbesar tambang bawah tanah adalah operasi ventilasi, karena setiap ruangan, bahkan yang tidak ada orang dan alat juga harus dialirkan udara. Dengan otomatisasi, dapat dilakukan ventilation-on-demand, yang dapat mendeteksi keberadaan manusia dan alat pada setiap ruangan, dan hanya mengalirkan udara pada ruangan yang membutuhkan saja. Dengan ventilation-on-demand ini, perusahaan Goldcorp pada site Éléonore, Québec telah mengurangi jumlah udara yang dialirkan dari 1.200.000 CFM menjadi 650.000 CFM, yang tentunya sangat menghemat biaya operasi. Dengan otomatisasi, alokasi untuk gaji karyawan dan keperluan karyawan juga dapat dikurangi. Selain itu, otomatisasi memberikan pengawasan secara real-time, sehingga dapat memberikan pemberitahuan akurat ketika komponen alat berat membutuhkan perawatan. Dengan perawatan yang lebih terkontrol, umur alat akan semakin panjang, sehingga dapat mengurangi frekuensi capital expenditure penggantian alat.

Gambar 1. Ventilation on demand Goldcorp. Sumber: www.youtube.com

Pada praktiknya, otomatisasi dapat berupa remote-control, teleoperation, driver assist, ataupun fully-automated. Di PT Freeport Indonesia misalnya, telah dimanfaatkan otomatisasi jenis teleoperation untuk mengoperasikan alat berat tambang bawah tanah di Grasberg Block Cave dari Tembagapura dengan alat kendali yang disebut Minegem. Otomatisasi sangatlah aplikatif, bukan hanya untuk eksploitasi, otomatisasi bermanfaat juga untuk eksplorasi, pengembangan, eksploitasi, bahkan penutupan tambang. Pada pengolahan misalnya, screening pecahan bijih yang lebih terawasi dan terkontrol akan memberikan bentuk hasil yang lebih seragam dan sesuai terhadap alat pengolahan, sehingga efisiensi pengolahan akan meningkat, dan umur fasilitas pengolahan menjadi lebih panjang.

Gambar 2. Otomatisasi di PT Freeport Indonesia. Sumber ptfi.co.id

Otomatisasi dapat dicapai dengan teknologi yang tersedia. Sebagai contoh, perolehan data menggunakan sensor diolah oleh Internet of Things (IoT), dan machine learning sehingga alat dapat melakukan iterasi dengan sendirinya untuk mencapai hasil yang maksimal. Dengan data yang diperoleh secara real-time melalui IoT, lingkup akademis dapat memperoleh sumber pembelajaran yang akurat, hasil operasi pertambangan yang lebih terprediksi, serta adanya kemunculan profesi baru seperti data analyst dan automation engineer. Selain itu, pengolahan data melalui mesin dan keterhubungan seluruh bagian operasi pertambangan dapat memberikan transparansi dan akuntabilitas perusahaan yang lebih baik, meminimalkan peluang terjadinya korupsi. Agar manfaat dari investasi maksimal, perusahaan tambang dapat mengadopsi otomatisasi ketika waktu pergantian alat-alat berat tiba. Secara umum, alat-alat berat di tambang didepresiasi selama 5 tahun, artinya industri melakukan pergantian alat-alat berat setiap 5 tahun. Dengan pergantian alat menuju otomatisasi, perusahaan tambang dapat memperoleh manfaat-manfaat dari otomatisasi untuk kedepannya.

DAMPAK NEGATIF DAN SOLUSINYA

Ketika terjadi kendala teknis, alat otomatisasi berpotensi tidak dapat bekerja sama sekali, sebagai contoh ketika sebuah self-driving dump truck mengalami kerusakan pada GPS, truk tersebut tidak dapat bekerja karena tidak ada data mengenai posisinya. Hal tersebut dapat diatasi dengan pengawasan rutin dalam hal teknis, yang juga dapat dilakukan oleh sensor.

Dengan hilangnya profesi tertentu akibat kemunculan otomatisasi, perubahan sektor pertambangan menuju otomatisasi pertambangan akan mengalami penolakan, terutama dari karyawan yang terpengaruh, dan pemerintahan. Dengan kemunculan otomatisasi sebenarnya tidak hanya mengurangi lapangan kerja, namun juga menambah lapangan kerja baru seperti data analyst dan automation engineer. Penolakan dari karyawan dapat dicegah dengan tidak melakukan PHK sepihak, namun memberikan training terhadap karyawan untuk menyesuaikan terhadap profesi baru di perusahaan, transfer karyawan ke perusahaan lain, atau melatih karyawan untuk berwirausaha, sehingga jumlah lapangan pekerjaan tidak “berkurang”. Penolakan dari pemerintahan dapat diatasi dengan memberikan masukan saat pemerintahan menyusun regulasi. Selain itu, proses perubahan menuju otomatisasi juga harus perlahan dan bertahap.

SIMPULAN

Hasil kajian menunjukkan bahwa.

  1. Otomatisasi pertambangan akan memberikan keuntungan dalam semua aspek dalam dunia pertambangan, mulai dari mengurangi risiko kecelakaan, meningkatkan produksi, meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya operasi, dan mengurangi capital expenditure saat pergantian alat. Hasil operasi pertambangan juga akan lebih terprediksi dengan bantuan otomatisasi.
  2. Otomatisasi dapat berupa remote-control, driver assist, teleoperation, dan fully.automated.
  3. Penolakan terhadap otomatisasi dapat terjadi, namun dapat diatasi dengan beberapa cara yang dapat dilakukan perusahaan tambang.

DAFTAR PUSTAKA 

Rio Tinto. Smart mining. Tersedia dalam https://www.riotinto.com/ourcommitment/smart-mining-24273.aspx . Diakses pada 30 November 2018.

Cisco. Building the Connected Mine. Tersedia dalam bentuk video pada https://www.youtube.com/watch?v=o7qUny6tNJc . Diakses pada 15 Desember 2018.

The Northern Miner. Automation and mining panel – 2018 Progressive Mine Forum. Tersedia dalam bentuk video pada https://www.youtube.com/watch?v=_gavcDroc5Q . Diakses pada 15 Desember 2018.

Dirjen Minerba. Dashboard Pimpinan – Kecelakaan Tambang. Tersedia dalam https://modi.minerba.esdm.go.id/pimpinan/kecelakaanTambang . Diakses pada 16 Desember 2018.

GlobalData Energi. The minerless mine: Ericsson’s Kankberg project is a glimpse into the future of automation. Tersedia dalam https://www.mining-technology.com/features/featurethe-minerless-mine-ericssons-kankberg-project-is-a-glimpse-into-the-future-of-automation-5925612/ . Diakses pada 16 Desember 2018.

PT Freeport Indonesia. Freeport Indonesia Miliki 75 Orang Operator Perempuan di Grasberg. Tersedia dalam https://ptfi.co.id/id/news/detail/freeport-indonesia-miliki-75-orang-operator-perempuan-di-grasberg . Diakses pada 16 Desember 2018.

SHARE:
Divisi Keprofesian 0 Replies to “PROSPEK OTOMATISASI DUNIA PERTAMBANGAN”