Revolusi Industri 4.0 dan Pengaruhnya pada Atmosfer Kemahasiswaan

Akhir-akhir ini mungkin sering digaungkan istilah Revolusi Industri 4.0 di Indonesia. Entah itu di ranah keilmuan, ranah social, atau bahkan ranah perdagangan. Banyak negara berlomba-lomba mengejar dan berusaha menguasai berbagai sector perindustrian di dunia dengan mengandalkan kemajuan-kemajuan teknologi ini.

Lalu apa itu revolusi industry 4.0? Revolusi Industri 4.0 pertama kali dicetuskan oleh seorang ekonom Jerman, yaitu Prof. Klaus Schwab. Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah sebutan untuk tren penggunaan automasi dalam teknologi manufaktur. Umumnya ketika kita berbicara tentang Industri 4.0 kita akan berbicara mengenai Internet of Things, Artificial Inteligence, Cloud Processing, dll. Istilah Revolusi Industri itu sendiri mulai muncul pada abad 18 di mana mesin uap pertama kali ditemukan oleh James Watt. Revolusi Industri 2 terjadi pada abad ke-19 seiring diciptakannya mesin-mesin yang memungkinkan pabrik untuk melakukan produksi massal. Pada abad ke-20 dimulai Revolusi Industri 3 dengan munculnya berbagai automasi atau mesin yang bekerja tanpa awak. Saat ini kita telah memasuki era revolusi 4.0 di mana sudah mulai bermunculan mesin yang dapat “berpikir sendiri”.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah mulai gerakannya dalam mempersiapkan negara ini untuk bersaing dalam era Revolusi Industri 4.0 ini dalam rencana “Making Indonesia 4.0”. namun bagaimana dengan kita mahasiswa? Apakah kita sudah mempersiapkan diri dalam menyambut Revolusi Industri ini? Ketika kita berbicara mengenai segala kemajuan teknologi yang ditawarkan dalam Revolusi Industri ini, seperti Internet of Things, Artificial Intelligence, Bank Data, Cloud Processing, dan lain-lain, kita pasti akan banyak berbicara mengenai kemajuan teknologi dan kemajuan teknologi akan selalu berdampak pada segala bidang keilmuan. Apabila di bidang pertambangan, salah satu implementasi dari kemajuan teknolog itu sendiri adalah Autonomous Haulage System, yaitu sistem hauling yang dapat beroperasi sendiri tanpa harus dikemudikan oleh manusia dan menawarkan efisiensi serta tingkat produksi dan keamanan yang sangat menjanjikan. Apabila industri Indonesia belum siap menghadapi kemajuan teknologi ini, dapat dipastikan ada banyak sekali operator yang akan kehilangan pekerjaannya.

Oleh karena itu, perlu disadari bahwa ada beberapa budaya-budaya yang harus dibiasakan dari dini agar kita siap menghadapi perubahan yang semakin cepat ini. Beberapa budaya tersebut adalah pembelajaran multi disipin, inovatif dan kreatif, efektif dan efisien, serta pemikiran kritis dalam problem solving. Untuk menumbuhkan beberapa budaya tersebut dapat dilakukan beberapa hal seperti

  • Multi disiplin : menjadi pribadi yang komunikatif dan open minded. Selain itu, kita harus membuka dan melibatkan diri kita dalam kolaborasi dengan bidang keilmuan lainnya.
  • Inovatif dan kreatif: membuka wadah untuk berkarya yang diterapkan dalam semua bidang, serta pembiasaan melakukan problem solving di lingkungan masyarakat
  • Efektif dan efisien: peningkatan efektivitas dalam agenda rapat (absensi, pembekalan sebelum rapat, dan lain-lain)
  • Kritis: menumbuhkan rasa kaingin tahuan

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan diri kita menghadapi perubahan, namun apabila kita meninjau ulang seluruh metode di atas, dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya yang paling penting dalam sebuah perubahan adalah niat untuk berubah itu sendiri. Sering kali kita terlalu takut atau mungkin terlalu malas untuk berpikir lebih dan hal inilah yang pada akhirnya akan membuat kita tertinggal dari persaingan yang ada di pasar dunia saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *